Oleh Angga Indraswara (Kompas, 02 Maret 2019)

Bayangkanlah suatu hari Anda berada dalam situasi berikut ini: proposal yang sudah Anda kerjakan selama berbulan-bulan ternyata ditolak klien. Untuk melepaskan diri dari rasa kecewa, Anda berniat mencoba kuliner baru yang direkomendasikan sahabat. Dalam perjalanan, Anda teijebak kemacetan.
Anda tiba di tempat tujuan dengan rasa lapar, tetapi ternyata rasa makanan yang disajikan jauh di bawah rekomendasi sahabat Anda. Anda lalu membuka Instagram. Tanpa diduga, foto pertama yang muncul adalah foto unggahan mantan pacar Anda bersama pasangan barunya.
Rentetan peristiwa di atas boleh jadi terkesan terlalu mengada-ada. Akan tetapi, skenario rekaan itu dengan jelas mengungkapkan satu sisi kehidupan yang cenderung ingin dinafikan oleh manusia: Ia tak sepenuhnya berkuasa atas peristiwa-peristiwa yang menyusun kisah hidupnya. Itulah keniscayaan hidup. Tak ada manusia yang dapat lari darinya.
Apabila kita harus menerima hidup yang semacam itu, suka atau tidak suka, pertanyaan besarnya adalah bagaimana kita menjalaninya.
Dalam buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini, Henry Manampiring menyajikan jawaban atas pertanyaan itu dengan menggali kembali ajaran para resi zaman Yunani-Romawi kuno yang dikenal sebagai kaum Stoa.
Dilengkapi pelbagai ilustrasi karya Levina Lesmana, buku ini mengulas dengan jitu bagaimana filsafat Stoa (Stoicism) dapat diterapkan oleh manusia zaman ini, khususnya oleh generasi milenial.
Nalar kendali emosi
Sebagai sebuah aliran filsafat, Stoisisme bukanlah sekumpulan gagasan rumit yang membuat sebagian besar manusia enggan menyentuhnya. Filsafat Stoa pertama-tama adalah sebuah laku hidup yang mengajak manusia untuk hidup selaras dengan alam.
Ini tidak sekadar berarti mencintai lingkungan hidup meskipun itu juga penting. Lebih dari itu, hidup selaras dengan alam berarti menjadi manusia yang menggunakan nalarnya seoptimal mungkin.