Melatih Batin, Mengendalikan Hidup

Sebagaimana berulang kali ditegaskan oleh penulis, penggunaan nalar ini amat penting dalam mempraktikkan gagasan dasar filsafat Stoa, yang terangkum dalam maksim yang dirumuskan oleh filsuf besar Stoa, Epictetus: “Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita”.

Contoh hal yang tidak di bawah kendali kita adalah opini orang lain. Sementara itu, hal yang berada di bawah kendali kita adalah nalar, emosi, dan hasrat kita. Yang tidak tergantung pada kita mesti kita lepaskan, sementara yang bisa kita kendalikan perlu kita kuasai.

Prinsip ini disebut sebagai dikotomi kendali (dichotomy of control). Meskipun tampak sederhana, tidak banyak orang yang menyadari hal ini, apalagi yang berusaha untuk terus-menerus mengingatkan dirinya agar melepaskan hal-hal yang berada di luar kendalinya. Padahal, menurut filsafat Stoa, kunci kebahagiaan manusia adalah kecermatan dalam memilah-milah kedua hal ini.

Untuk menjadikan prinsip dikotomi kendali lebih mudah diaplikasikan, penulis memperkenalkan gagasan William Irvine yang mengembangkannya menjadi trikotomi kendali. Kategori yang baru adalah hal-hal yang bisa sebagian dikendalikan oleh kita.

Kategori ketiga ini mengajak orang untuk hanya mengejar tujuan dalam dirinya sendiri (internal goals) daripada hasil eksternal (outcome). Ini membebaskan orang dari tirani pendapat orang lain dan hal-hal yang tidak berada di bawah kendalinya. Batinnya menjadi merdeka untuk mengejar dan melakukan hal-hal yang telah diputuskan oleh nalarnya sendiri sebagai hal-hal yang baik untuk hidupnya.

Tanpa banyak mengurangi substansi, penulis menguraikan prinsip dasar filsafat Stoa ini dengan jernih dan dalam bahasa yang mudah dicerna oleh mereka yang tidak terbiasa dengan ilmu filsafat. Tidak hanya itu, dalam bab-bab tertentu, penulis juga menyajikan hasil wawancaranya dengan beberapa ahli dan praktisi. Ini menjadikan ajaran filsafat Stoa semakin bisa dipahami dalam konteks zaman ini.

Berawal dari Survei Khawatir Nasional yang dibuatnya sendiri, penulis menunjukkan relevansi filsafat Stoa karena kenyataannya sebagian besar manusia Indonesia diliputi macam-macam kekhawatiran.

Arsip Cerpen di Indonesia