Air Pemberi Kehidupan

Cerpen Gandi Sugandi (Radar Malang, 03 Maret 2019)

Air Pemberi Kehidupan ilustrasi Radar Malang (1)
Air Pemberi Kehidupan ilustrasi Radar Malang

Sudah sekian jam Mamang ini berkeliling menjajakan cincau. Minuman yang terbuat dari daun cincau yang berbentuk hati yang diperas bersama setakar air, dan diendapkan semalam. Lalu paginya berbentuk seperti ager, pula berwarna sehijau daun. Mamang ini lebih memilih cara tradisional. Tak seperti temannya, dengan menggunakan sesuatu obat, maka beberapa menit pun sudah mengendap.

Cincau Mamang ini disajikan dalam gelas tinggi bersama cairan gula merah, parutan es dan airnya. Itu saja. Bila disantap saat terik—apalagi bersama pasangan sah—, kesegarannya langsung mengalir di tenggorokan. Cincau, minuman khas Jawa Barat.

Mamang ini merasa haus pula, bekal airnya dalam wadah plastik kemasan, yang disimpan di dekat panci penyimpanan cincau, diambilnya. Setelah minum, barulah rasa hausnya itu pergi. Tiba-tiba dia ingat, padahal di dalam tubuhnya terkandung air 80%. Tapi kenapa, nyaris teringat air hanya pada saat haus? Ya, saat kandungan airnya dalam tubuh berkurang.

Saat beraba-aba hendak memanggul dagangannya, seseorang memanggilnya. Sengaja Mamang ini tak memakai roda dorong saat menjajakan. Namun dengan ditanggung. Yang seberat beban hidupnya. Pembeli ini iseng-iseng bertanya seraya menerima segelas pesanannya. “Kenapa ditanggung Mang?”

“Ditanggung itu biar lebih leluasa. Bisa masuk ke selasar pasar, menyusuri gang, bisa nyeberang selokan. Kalau bawa roda, terus di tanjakan tak kuat, bisa mundur kan?”

“O..”

“Hanya saja, saat musim hujan.. ya sudah, ada kalanya sepi, jualan tersisa. Gantian dengan pedagang baso.”

“Tapi Mang, pedagang baso itu musim hujan musim kemarau selalu ada..”

“O iya. He he. Tapi kadang aku membenci air hujan Mas..”

Pembeli ini merapikan duduknya di tepi jalan raya ini. Memang dia numpang di tukang penjual mie rebus. Baru kali ini, kembali mendengar ada orang yang membenci hujan.

“Lho, kenapa benci air hujan? Bukankah sungai berair karena ada air hujan? Tanaman tumbuh sebagai sumber bahan makanan karena air hujan? Pepohonan hidup sebagai penghasil oksigen karena air hujan pula?”

“Pokoknya yang aku tahu, saat musim hujan, penghasilanku berkurang.”

Pembeli ini tak ingin bicara lebih jauh, lagi pula cincau di gelas sudah tandas. Mamang penjual cincau juga kelihatannya sudah bersiap pergi untuk menjajakannya ke lain tempat. Pembeli hanya dapat memandangi sampai tak lagi terlihat.

Berjalan di bawah terik, bulir-bulir keringat datang. Mamang ini mengusapnya dengan handuk yang melilit leher. Tiba-tiba terpikir olehnya: tubuh manusia pun bisa mengeluarkan air? Sedangkan tadi aku dengan salah seorang pembeli, bicara bahwa aku membenci hujan. Ah, aku salah. Keceplosan bicara. Bagaimana kalau Pemilik Air Hujan itu marah?

Cincaunya tinggal sedikit. Di depannya, di mulut gang terpampang bendera kuning. Pertanda ada yang meninggal barusan. Ya benar. Beberapa orang kemudian memasuki gang ini. Beberapanya berderai air mata.

Kembali Mamang ini berpikir, oh dari mata, dari bagian tubuh manusia yang lain pun bisa keluar air.

Mamang ini di antara suasana duka, berhenti dahulu, barangkali ada yang kehausan. Hingga mau membeli minumannya. Menunggu duduk di bangku pendeknya.

Di antara lalu-lalang orang yang bertakziah, Mamang sayup-sayup mendengar penyebab almarhumah meninggal. Katanya kehabisan darah karena sebelumnya ditusuk suaminya akibat selingkuh.

Mamang termenung: darah, berupa air pula, dari sekian banyak jenis air. Kekurangan darah, fatal akibatnya. Orang sering melupakan keberadaannya yang sebenarnya ada dalam setiap tubuh. Bila melihat darah, barulah orang ingat, bahwa dalam tubuhnya pun terkandung darah.            Beberapa lama menunggu, tak ada yang mendekatinya. Mamang berjualan di waktu yang kurang tepat. Lalu beranjak pergi..

***

Dua tahun lalu, Mamang ini bekerja sebagai penggali pasir di sungai. Pagi-pagi berdiri di jalan raya menunggu truk pasir tiba. Untuk melaju ke sungai besar. Ke batang sungai yang surut airnya, bekas kemarin menggali. Truk diparkirkan di pinggir sungai.

Pasir-pasir itu mengendap, sebagian masih bercampur air, di tepian. Mamang menyekop pasir, sampai ratusan kali. Di sini bisa berhari-hari atau berminggu-minggu mengais pasir, bergantung ketersediaan pasir. Bila sudah habis, mencari lagi ke batang sungai yang lain. Ya saat tak ada air di sungai, pasir melimpah, banyak rezeki bagi pemilik truk, tapi biasa saja bagi Mamang ini.

Lalu saat kemarau, bahkan truk pun bisa parkir di tengah sungai. Bisa mendapatkan hasil dengan banyak serta cepat.

Namun musim hujan, adalah musim paceklik. Tak bisa memanen pasir. Pasir terbawa arus air yang deras. Sebagiannya beralih menggali bukit, tak peduli bahaya longsor mengintai. Kebalikannya dengan petani, peladang. Musim hujan musim yang ditunggu. Mereka yang bersawah tadah hujan. Atau yang meladang, saat hujan pertama turun, bertanamlah aneka macam sayuran, atau kacang-kacangan.

Mamang ini tak pernah bertani atau berladang. Tak punya tanah tak punya lahan garapan. Hanya menggali pasir saat air sungai surut. Karena alasan ini pula, hidupnya yang pasang surut yang sudah bertahun-tahun, berubah haluan menjadi penjual cincau.

***

Hari itu Mamang ini merasakan sakit di betis. Jualan cincaunya masih menumpuk di panci besar. Saat tak kuat lagi berjalan, berhenti di depan sekolah SMA-SMP-SD yang berjejer. Cuaca sedang mendukung berjualan, hari panas. Untunglah saat bubar sekolah itu cukup banyak yang membeli.

Saat bersiap pulang, kakinya kembali terasa sakit. Sungguh tak memungkinkan bila memaksakan berjalan kaki. Maka dia menyetop ojek, dengan ongkos yang miring, karena tukang ojek pun mengerti keadaan penjual cincau ini.

Malamnya benar-benar malam yang kelam bagi Mamang ini. Setelah dilihat di betis kirinya, nampak urat-urat besar kebiruan: varises. Mamang ini berlinang air mata. Bagaimana esok berjualan? Bila menggunakan jasa ojek, tentulah tak dapat untung. Uang habis di ongkos. Coba saja kalau punya motor, maka bisa berjualan memakai motor. Tapi dari mana uang untuk membelinya?       Hari itu seharian tak ke mana-mana. Tapi pikirannya jalan. Kiranya setelah sekian tahun menjajakan dagangannya, betisnya kena penyakit: varises. Bahwa aku walaupun  hidup seorang diri harus bisa makan. Kembali menjadi penggali pasir tentu tak mungkin. Apalagi menjadi pemulung yang harus berjalan kaki sejauh-jauhnya.

Bila membuka usaha warung di depan rumahnya tak ada modal. Menjadi pengemis dengan berdiam diri di perempatan, bukan prinsipnya.

Lalu menjadi apa?

Tiba-tiba dia teringat, di pertigaan penghubung gang dan satu jalan, dekat rumahnya, ada pemilik isi ulang air mineral. Maka dengan penuh semangat, pergi ke sana, menemui Pak Ridho. Hendak melamar menjadi pekerjanya. Pak Ridho tahu keseharian Mamang ini yang dikenal sopan dan jujur, dan juga karena merasa kasihan, sehingga diterima bekerja.

Pekerjaan ini cocok bagi Mamang ini. Karena ada di tempat, duduk menunggu pembeli air adalah bekerja. Saat ada yang membeli, botol galon berdaya tampung 19 liter itu dikurasnya. Lalu dimasukan pada kotak pengisian, ditekannya tombol keluar air, tingggal menunggu. Saat sudah penuh, ditekan lagi tombolnya, air berhenti mengalir. Lalu menyerahkan kembali botol galon itu pada pemiliknya. Terima uang. Selesai.

Kinerja Mamang ini ternilai baik. Pagi datang, malam pulang. Sehingga Pak Ridho tak ragu, selalu tepat waktu memberikan makan siang dan gaji bulanan. Mamang ini bersyukur, dengan menjadi penjaga isi ulang air mineral pun bisa meneruskan hidup. Tak ada lagi air mata dari Mamang ini saat sendiri malam-malam, ketika memikirkan, esok makan apa.

Air memang pemberi hidup. ***

 

Bandung, Februari 2019

Gandi Sugandi. Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000.  Mulai tahun 2002 bekerja di Perum Perhutani. Tahun 2014, 2015 mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi. Saat ini  di BKPH Rajamandala KPH Bandung Selatan.

Arsip Cerpen di Indonesia