Bidadari seperti Ibu

Oleh Yelia Fitriani (Padang Ekspres, 03 Maret 2019)

Bidadari seperti Ibu ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Bidadari seperti Ibu ilustrasi Orta/Padang Ekspres

PADA zaman dahulu kala di sebuah negeri dongeng, hiduplah sebuah keluarga kecil yang bahagia. Keluarga sederhana itu terdiri dari ayah, ibu, dan Amel. Amel suka memandangi bulan dan bintang di langit pada malam hari. Setiap malam Amel duduk di depan gubuknya yang bersih dan penuh bunga. Ia memandangi bulan yang indah dari tempat tersebut. Amel selalu tersenyum pada bulan yang dilihatnya setiap malam itu.

Menurut Amel, di dalam bulan yang tampak seperti bola kristal bulat yang bening dan indah itu hidup banyak bidadari bersayap emas. Amel tahu hal itu dari neneknya. Dulu nenek sering bercerita pada Amel tentang bidadari yang hidup di bulan. Dulu nenek juga sering menemani Amel di luar untuk melihat bulan dan bintag-bintang yang indah. sayang, sekarang neneknya Amel sudah meninggal.

Amel ingin neneknya hidup kembali. Dan bisa menceritakan banyak hal lagi pada Amel. Amel masih ingat tentang cerita nenek yang paling menarik.

“Amel sayang, Amel lihat bulan yang indah dan bercahaya itu, kan?” tanya nenek suatu hari pada Amel.

“Lihat Nek. Memangnya kenapa, Nek?” jawab Amel, kemudian memberi neneknya pertanyaan lagi.

“Amel tahu tidak, di dalam bulan yang indah itu ada banyak bidadari yang hidup dengan rukun dan damai,” kata nenek lagi sambil tersenyum melihat Amel. Saat itu mereka sedang duduk di luar menikmati suasana malam yang terang bulan.

“Hah? Bidadari, Nek? Bidadari yang seperti apa yang hidup di bulan?” Amel kembali bertanya pada nenek sambil melihat bulan dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Bidadari yang bersayap indah, sayapnya itu terbuat dari emas. Pakaiannya indah dan terbuat dari sutra. Matanya juga bersinar. Wajahnya pun cantik-cantik dan bercahaya,” jawab nenek kembali dengan senyum di wajah keriputnya.

Arsip Cerpen di Indonesia