Mentari menyisakan separo bulatannya di balik punggung bebukitan, cahayanya meredup santun. Aku bersimpuh seiring gema halus kalam-kalam ilahi dari mereka yang berkerumun menjelmakan warna kerinduan dilengkapi isak tangis pilu sanak saudara. Seakan tak percaya, seolah berita dari antah berantah manakala kudapati tubuh sahabatku terbujur kaku. Dua hari yang lalu, istrinya menelpon memohon mengantamya ke rumah sakit terkait komplikasi penyakitnya yang acapkali kambuh.
“Mengapa akhir-akhir ini, angan dan perasaanku selalu saja tersaput gelinjang takut. Padahal kondisi kesehatanku telah dinyatakan fit dan segala penyakitku sirna. Itu kata beberapa dokter, Sdulur.” Begitu dia berkeluh-kesah suatu malam, ketika aku menemaninya.
“Sebenarnya, apa yang menjadi beban pikiranmu saat ini?” Tanyaku pelan. Sahabatku, Ramadan hanya menekuk wajahnya.
“Seandainya aku pergi memenuhi panggilan Ilahi, aku khawatir, Sdulur. Kepada siapa dia harus mengadu karena kau tahu, aku tiada berkemampuan memberikan keturunan padanya meski usia pernikahan hampir dua dasa warsa.” Hingga di sini kata-katanya terhenti karena menyempatkan udara malam singgah di kerongkongannya yang dirasakannya kerontang, disandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal dengan sedikit erangan mendesis dari bibirnya. Sementara mulutku hanya diam.
“Sudahlah, Mas! Dari hari ke hari kau pusatkan arah pikiranmu hanya kepada cemas dan cemas. Berdoalah sebagaimana tiada henti aku berdoa demi kesembuhanmu, dan juga demi keinginan kita dianugerahi momongan. Lagian, bukankah ada Retno, anak asuh kita. Bahkan beberapa bulan ke depan kita akan menikahkannya yang tentunya akan menghadiahi kita dengan seorang cucu.” Sangat pelan berkata Suprihatin.
“Semangat sembuhlah, Mas. Pekan depan, insyaallah kita juga akan melaksanakan umrah.” imbuhnya lagi.
Sunyi malam, geremang suaranya masih tercema sempurna. Kuanggukan kepala bukan karena sebuah persetujuan, bukan pula karena isarat kemengertian. Kuselami arti sebuah kekhawatiran lewat raut wajahnya. Tentu aku pun akan bersedu-sedan andai situasi kelabu hatinya berpindah ke pundakku. Hampir sepuluh tahun bersama-sama mengarungi dunia pendidikan di sebuah pondok majelis ilmu. Aku, dia dan juga Suprihatin yang kini menjadi istrinya, kemudian berpencar, aku berkelana dari pondok satu ke pondok lainnya sedang Ramadan bernasib mujur ditarik mengajar di sebuah lembaga pendidikan.
“Sudahlah jangan terlalu berkutat dengan keeemasan, Sdulur.” Bergelinding datar ucapanku meredakan suasana. Memperkuat pernyataan Suprihatin.