Jelaga di Langit Jingga

“Yah, itu pasti. Insyaallah doakan saja. Dua rencana besar itulahyang aku jadikan penawar kekhawatiranku.”

“Bapak-bapak juga sdulur-sdulur sekalian, atas restu seluruh keluarga almarhum. Jenazah almarhum akan dimandikan sore ini juga.” Kiyai Bagusdin, selaku orang yang dituakan tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Belum sepenginangan, tubuh kurus kecil kuning langsat telah terbujur di atas keranda pemandian. Tak sanggup mataku berlama- lama menatap teduh wajahnya. Anganku kembali menjelajahi rentang silam. Dalam sebuah pertemuan setelah bertahun-tahun disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Aku berdua Ramadan menyempatkan sowan kepada beberapa kiyai untuk kemudian meneruskan berkholwat di beberapa petilasan keramat.

“Insyaallah, kalian berdua akan menemukan jodoh secara bersamaan, bahkan di berbagai situasi kalian akan melakoninya secara bersamaan.” Demikian tutur mereka tatkala menyambut kami dengan senyum lebar serta bejubel petuah hidup. Dari sini, Ramadan dipertemukan dengan keluarga Suprihatin.

“Tau akan menjadi pendamping hidupku, kenapa tidak dari dulu semenjak masih sepondok.” Ramadan berkelakar, kala itu. Yang hanya dijawab senyum ranau sang istri.

“Ila hadharati Cak Ramadan bin Simbah Suhando, alfatihah!” Kembali Kiyai Bagusdin berteriak, mengomandoi geremang ayat pembuka. Cukup menghentakanku, tanah pijakan serasa bergetar, angin dingin berseliweran menebar wangi ermawar dari keranda pemandian. Tak sempat aku mendekat tapi kurasakan kehadirannya begitu dekat merapat. Tak jua tertahankan, sudut mataku sembab melelehkan air kedukaan, tak kusangka secepat ini engkau berpulang, Bukankah kedigdayaan du’a mampu merubah guratan qodo-Nya dan sahabatku ini tentunya sangat mafhum akan permohonan panjang umur. Tak salahkah Sang Ijroil memenuhi tugasnya? Segudang pertanyaan serta teriakan protes berkecamuk dalam dada. Seakan hendak menggerus begitu saja kepengetahuanku akan theology dan suratan takdir yang telah tertanam dalam jiwa yang terpupuk di pondok sekian lamanya.

“Bukankah kita tengah berada pada poros usia, Sdulur! Sesungguhnya kedatangan sang penjemput tidaklah secara tiba-tiba, dari awal telah diutusnya berbagai pertanda. Dan aku tengah menghadapi sekaligus menikmati pertanda itu di mana sang penjemput mempersilahkan kita dengan kesahajaannya atau dengan kebengisannya untuk memanjati titian waktu yang serba tak terbataskan. Dari pemba ringan ini kupastikan pintu alam hakikat terbuka sudah.”

Arsip Cerpen di Indonesia