Jelaga di Langit Jingga

Meremang bulu kudukku atas nama keterperanjatan, bukankah suara tak asing itu mengalir dari mulut Ramadan. Dari sedepa arah berdiriku, kutatap sayu wajah penuh ketentraman bersimbah air kesucian. Titik-titik butirnya membentuk kilauan mutiara,walau bibirnya tak bergerak.

“Syari’at adalah titian pendek yang mengharuskan adanya batasan sedang hakikat tak lain pilar kokoh di kedua sisinya. Hidup adalah titian menuju arah gerbang hakikat. Nah dari titian itu, manusia mengukir hakikat jati diri. Sepelintasan titian akan mampu membangun mahligai kebahagiaan abadi atau sebaliknya merentas penderitaan tanpa batas. Begitulah hidup, usia dan pengharapan berlomba menuju raib dalam sebuah pencarian. Takdir menorehkan dua sisi nan berbeda laksana kepingan uang logam. Tertulis cita-cita, angan-angan dan berlaksa permohonan namun pada sisi se- belahnya tersurat pula buntalan misteri di mana seluruh mata pena tak dapat menuliskannya secara nyata bahkan seringkali bertolak belakang dengan segala apa yang diharapkan.” Kiyai Bagusdin mengakhiri tutur sapanya begitu menyerap hingga meluluh lantakan naf angkuhku. Kupalingkan nanar tatapanku ke langit jingga. Nampak buram untaian cakrawala menjelaga menangkap denyut nadi seakan turut berduka atas segala nada kehilangan raga yang bersahaja. Sebuah maklumat perpisahan sepertinya telah tertorehkan.

“Selamat jalan, Kawan. Semoga Yang Maha Kuasa mempersilahkanmu dalam hamparan keridhaan-Nya..” Getar bibirku getir seiring beku hatiku. Suara angin malam berkelebat, tangis dan sunyi kian menjerat. ***

Arsip Cerpen di Indonesia