Banyak pemuda kampung bersedia bergabung menjadi anggota. Banyak rakyat yang makin miskin pada era reformasi ramairamai mendaftarkan diri sebagai anggota yang akan mendukung dia menjadi calon presiden.
Di antara kerumunan rakyat di depan posko relawan juga muncul dukungan agar Kakek Ane berani maju menjadi calon presiden. Namun jika kelak menang, harus memimpin bangsa dan negara ini sama seperti rezim Orde Baru.
“Kakek Ane pasti mampu meniru gaya kepemimpinan Pak Harto!” seru seseorang di tengah kerumunan. Yang lain beradu komentar.
“Ya, sebaiknya Kakek Ane segera mendeklarasikan diri sebagai calon presiden.”
“Kalau tidak ada partai yang mendukung, Kakek Ane bisa maju sebagai calon independen. Banyak rakyat pasti mendukung!”
“Hidup Kakek Ane!”
“Hidup Kakek Ane!”
“Hidup Kakek Ane!”
Aspirasi dari tengah kerumunan rakyat itu bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Tanpa komando, banyak orang memakai baju dan topi bergambar wajah Kakek Ane dengan kepsen “Calon Presiden”. Banyak umbul-umbul dan spanduk bergambar wajah Kakek Ane dengan tulisan itu bermunculan di berbagai sudut desa dan kota.
Sejumlah pengamat politik menulis opini berisi ulasan dan dukungan kepada Kakek Ane. Judul-judul opini itu cukup menarik: “Kakek Ane Makin Populer”, “Kakek Ane Makin Ngetopî, “Kakek Ane Layak Jadi Presiden”.
Judul-judul opini itu menjadi trending topic dan dibahas dalam talk show televisi dengan narasumber pakar politik. Kakek Ane juga tampil sebagai narasumber talk show di televisi hampir setiap hari.
Tiba-tiba muncul isu Kakek Ane akan direkrut menjadi penasihat utama Presiden agar tidak terus menerus menentang kebijakan pemerintah. Isu itu meresahkan rakyat yang menginginkan Kakek Ane menjadi calon presiden. Banyak orang menggerutu.
“Politik memang licik. Setelah Kakek Ane makin populer, Presiden ingin merangkulnya.”
“Sekarang Presiden tampak takut kepada Kakek Ane.” “Kakek Ane pasti menolak menjadi penasihat utama Presiden.”