Kalangan seniman tak mau ketinggalan mengekspresikan dukungan politik kepada Kakek Ane. Sejumlah pelukis menggelar pameran lukisan wajah Kakek Ane di sejumlah kota besar. Sejumlah pematung ramai-ramai membuat patung Kakek Ane yang dipajang di galeri masing-masing. Para pencipta lagu bergabung untuk membuat lagu baru berjudul “Kakek Ane”, berisi syair yang menarik.
Kami cinta Kakek Ane
Kami sayang Kakek Ane
Kakek Ane
Kakek Ane
Syair lagu itu dihafalkan banyak anak kecil dan remaja. Ibuibu juga suka menyanyikan. Petani di sawah dan pedagang di pasar pun gemar menyanyikan sambil bergoyang-goyang. Siang-malam televisi dan radio sering mengumandangkan berulangulang.
Kakek Ane sangat gembira melihat makin banyak rakyat memakai baju dan topi bergambar dia. Semua lembaga survei menempatkan dia sebagai tokoh terpopuler.
Sebagai tokoh sangat populer mengalahkan semua selebiritas, Kakek Ane selalu dikejarkejar banyak orang yang hendak berfoto bersama. Kakek Ane jadi sering kelelahan. Padahal, pada usia tua seharusnya Kakek Ane banyak istirahat agar tidak kelelahan.
Siang itu, Kakek Ane muncul di seminar nasional “Menyongsong Pileg dan Pilpres”. Tiba-tiba semua peserta seminar, ratusan orang, mengepung dia hendak berfoto bersama. Mereka berdesak-desakan. Saling dorong. Ada yang terjatuh, lalu terinjak-injak.
Kakek Ane pun terjatuh dan terinjak-injak. Kakek Ane pingsan. Tubuhnya babak-belur, segera diangkut ke rumah sakit. Semua yang melihat menangis sambil berseru, “Kakek Ane! Kakek Ane! Kakek Ane!”
Sehari kemudian, di media sosial muncul foto Kakek Ane berwajah lebam seperti habis dipukuli dengan benda keras yang langsung viral karena disertai kepsen provokatif: “Kekerasan politik itu nyata. Kakek Ane adalah korbannya!”
Dalam waktu singkat, banyak tokoh oposan berkumpul menggelar rapat untuk merancang agenda aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut Presiden bertanggung jawab atas kekerasan politik yang menimpa Kakek Ane. Di banyak tempat, di banyak kota, bermunculan baliho-baliho besar bergambar Kakek Ane disertai kepsen “Hidup Kakek Ane!”, “Kakek Ane adalah kita!”, “Kita adalah Kakek Ane!”.
Griya Pena Kudus, 2019
Maria M Bhoernomo, lahir di Kudus, 23 Oktober 1962. Dia menulis prosa, puisi, dan esai dalam bahasa Indonesia dan Jawa. (28)