Bertumpuk kesedihan menimbuni. Ibu menyusul. Kelukaan belum reda, tanah pusara ibu masih memerah, kakakku pergi selamanya, ditabrak truk. Merantau pada kota lain yang berjarak beratus-ratus kilometer, menyeberangi lautan, bertahun-tahun meninggalkan tanah kelahiran, harum kamboja kadang datang menguar tanpa kuundang.
***
Bukan mahasiswi, kau seorang pelayan di kantin pada sebuah kampus di kota dingin itu. Tapi kau pelayan istimewa. Bukan hanya karyawan kampus, tapi mahasiswa bahkan dosen menyukaimu. Termasuk aku, mahasiswa biasa-biasa saja tingkat persiapan. Padahal saat itu seorang gadis cantik teman semasa SMA. Tapi entah, aku malah memburumu. Kukirim puisi-puisiku lewat Bu Kantin. Kau tak pernah membalasnya. Senja itu, aku sedih sekali saat di kantin kampus tak lagi kulihat dirimu. Kabar bertiup kau pulang kampung untuk dikawinkan. Ah, untuk pertama kali aku jatuh cinta, tapi kemudian patah hati.
Benarkah pada saat itu aku down karena cinta. Entah. Nyatanya sejak kepergianmu aku tak berselera pacaran. Bahkan Nona yang mengejar-ngejarku akhirnya menghentikan asa, dan menyebar gosip kalau aku penyuka sejenis, gara-gara sering berdua bersama Jaka. Padahal apa salahnya menolong teman satu kampung. Demi menghemat biaya indekos, kami tinggal satu kamar. Kerekatan tak lebih dari persahabatan. Saling support, untuk menuntut ilmu, apalagi tahun ketiga kuliah, kerabat yang membiayaiku memutus dana. Aku bekerja apa saja untuk bisa tetap kuliah. Bangganya ketika diwisuda jadi sarjana. Sayang kedua orang tuaku tak melihatnya.
***
Tahun-tahun berlalu, aku diterima sebagai pengajar di pulau terluar Kalimantan. Mengedukasi generasi muda di wilayah perbatasan. Menularkan kebiasaan membaca, menulis, dan hidup sehat. Suatu pagi yang mewah aku bertemu lagi dengan kau. Engkau masih seperti yang dulu. Padahal saat itu bocah lelaki gempal malu-malu menggelendot di pinggangmu.
“Apakah dia bisa diterima di SD ini? Usianya sudah 8 tahun, tak pernah sekolah TK. Aku tak bisa mengantarnya, saban hari harus di kebun kelapa sawit.”
“Suamimu?”
“Ia pergi saat aku mengandung anaknya. Katanya ke Malaysia. Entah, sampai Bonar sebesar ini, ayahnya belum berkabar, sekali pun.” Ia kelihatan mendung.
Dan aku ingin membuat harinya berpelangi, seperti impianku semasa mahasiswa dulu. “Sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh cinta. Aku mengirim puisi-puisi untukmu. Apakah puisi itu sampai?”