Ia memasuki kamarku dan memelukku. Ia memang cantik, sangat mirip denganmu, wangi, ia buah kasih sejati kita, Sayang.
“Ayah, Kamboja mohon restu. Esok Bang Raihan membawa Kamboja ke Prancis. Mungkin lama Kamboja tak bisa bertemu Ayah. Ayah jangan sedih, ya.”
“Iya.”
“Ayah jaga kesehatan. Mas Bonar akan lebih sering ke sini.”
“Iya.”
“Kamboja akan selalu menelepon Ayah. Kita bisa BBM-an, Whatsapp-an, Skype-an. Kamboja sangat sayang Ayah. ”
Rasanya baru kemarin, ia bayi merah, aku menyuapi, menceboki, mengantar ke sekolah, mendongengi. Ia sekarang menjelma bidadari secantik dirimu. Sepekan yang lalu disunting pangeran tampan negeri seberang.
Wahai, berapa laksa musim bunga kamboja segar dan kering berguguran? Rasanya baru kemarin aku mencium rambutmu, tubuhmu. Ini kah takdir cinta? Layak kah kalau aku menamakan cinta kita: cinta sejati, sedang beratus purnama aku terkadang masih meratap.
“Mengapa Ayah menangis? Ayah pasti teringat pada ibu.”
“Iya, kau sangat mirip ibumu, Sayang.”
“Kamboja sedih jika melihat Ayah murung. Ibu sudah bahagia di surga.”
Ia memelukku. Erat. Setitik air mataku jatuh di rambutnya, tapi hanya kubiarkan setetes saja. “Pergilah, Anakku. Tempuhlah hidup baru. Cintai suamimu. Sayangi anak-anakmu…”
***
Pada setiap sudut graha ini masih menguar harum kamboja.
Kebun kamboja kita masih berbunga. Segala penjuru rumah kita ada aura kamboja, Sayang. Tapi takkan pernah ada lagi harum kamboja pada dipan cinta kita. Sejak kau pergi. Entah ke mana. Setelah melahirkan Kamboja.
Kota Ukir, 26 Mei 2014-29 Juli 2018
Kartika Catur Pelita. Penulis novel “Perjaka” dan kumcer “Balada Orang-Orang Tercinta”. Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Novel terbarunya, “Kentut Presiden”.