“/Pada hujan kulihat rinai wajahmu/pada malam kutemukan dalam pesonamu/pada bulan kasih seindah purnama menyapa/. Aku suka tapi tak membalas, karena aku tak bisa menulis puisi.”
“Sekarang kita bertemu. Aku masih cinta padamu. Kau urus perceraianmu, lalu kita menikah.”
“Aku bukan lagi gadis Mas, tapi sungguh aku tersanjung mendengar kata-katamu.”
“Ini pinangan. Anggukan kepalamu dan tersenyumlah jika kau mengabulkan keinginanku.”
Ia tersenyum dan aku melayang. Segera kami mengurus berkas pernikahan.
***
Pada sebuah kamar berharum seribu kamboja. Pada dipan ukiran Jepara. Seprai bermotif putih kamboja. Pada peristiwa bersejarah: malam pertama yang seumur hidup takkan pernah kulupa.
“Kau gemetaran.”
“Aku…aku masih perjaka. Jangan kecewa kalau aku mungkin…”
Maka bersama Kamboja aku menikmati hari-hari surga. Gairah kian merekah. Dua tahun menikah kau mengandung. Akhir April yang teduh, malam hangat usia mencecap keindahan, seraya membasuh keringat, kita menguntai angan.
“Aku ingin kelak kita memberi nama dia Kamboja.”
“Hei…kita belum pernah USG.”
“Tak perlulah, Mas. Kuberitahu, sebagai ibu dan anak, kami sering berbincang, bercengkerama. Ia sangat jelita.”
“Kau mengada-ada.”
“Berbulan-bulan ia bersemayam dalam tubuhku, Mas. Ia bermain-main, ia makan, ia nendang, ia kadang ngambek. Aku harus membujuknya. Kami bicara dari hati ke hati.”
“Sekarang aku percaya.”
“Ikatan batin seorang anak pada ibunya itu nyata.”
“Oya, bagaimana ikatan batin seorang anak pada ayahnya?”
“Kelak kau pun semakin merasakannya jika anak kita sudah lahir. Ketika ia memanggilmu Ayah.”
Harum kamboja menebar. Akulah calon ayah paling bahagia di Mayapada.
***