Keluarga Baru Arga

Burung itu lalu menganggukkan kepalanya perlahan, “A…aku, Arga si Burung Cangak Merah. Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua karena telah berbaik hati menolongku.”

“Iya, Arga. Sebagai makhluk Tuhan kita harus tolong-menolong, bukan?” jawab Tery.

Arga si Burung Cangak Merah sangat terharu dengan jawaban Tery. Namun, Arga hanya bisa membalasnya dengan kembali mengangguk lemah.

“Kalau boleh tahu, dari mana asalmu, Arga?” tanya Cupi Kepiting.

“A…aku berasal dari hutan bakau di sebelah selatan pantai ini.” Ungkapnya murung. “Aku sedih sekali karena tempat tinggalku sudah dirusak.” Arga si Burung Cangak Merah tidak kuasa menahan tangisnya.

Cupi dan Tery saling berpandangan. Keduanya hanya diam selama beberapa saat. Ya, mereka paham sekali bagaimana perasaan Arga si Burung Cangak Merah saat itu.

“Karena itulah, semua penghuni hutan mengungsi dan menyelamatkan diri masing-masing untuk mencari tempat tinggal baru. Ya, termasuk aku! Sejak tadi malam, aku terbang sekuat tenaga hingga sampai di tepi hutan ini. Akibat kelelahan, aku jatuh pingsan dan akhirnya bisa bertemu dengan kalian berdua.” Lanjut Arga.

Cupi Kepiting manggut-manggut. “Kenapa bisa begitu, Arga? Memangnya, separah apa kondisi hutan tempat tinggalmu itu?” tukas Cupi.

Arga masih diam. Ia tidak lekas menjawab pertanyaan Cupi Kepiting.

“Semua ini terjadi karena ulah sekelompok manusia yang menebangi pohon-pohon bakau seenaknya.“ Ungkap Arga sesenggukkan. “Mereka tidak peduli dengan kehidupan satwa yang sangat bergantung dengan hutan.” ketus Arga.

“Kendalikan dirimu, Arga. Kami berdua turut merasa prihatin atas kerusakan yang telah melanda tempat tinggalmu itu.”

“Betul, Arga! Nah, mulai sekarang, kamu boleh kok tinggal di sini bersama kami. Para manusia di sekitar hutan bakau ini sangat baik.

Mereka terus berusaha menjaga hutan ini agar semua satwa bisa hidup dengan damai. Lagipula, dengan adanya hutan bakau, mereka akan terlindungi dari ancaman abrasi.”

Arsip Cerpen di Indonesia