Penyesalan Pito, Burung Pipit

Oleh Lucia Anung (Kedaulatan Rakyat, 03 Maret 2019)

Penyesalan Pito, Burung Pipit ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat3w.jpg
Penyesalan Pito, Burung Pipit ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

MUSIM penghujan telah tiba. Seluruh keluarga burung berpacu membuat sarang sebagai tempat berteduh.

“Ayo, Piti. Lekas selesaikan bagian yang itu. Lihat ke atas, awan sudah gelap,” pinta ibu Piti, burung pipit putih.

“Sini aku bantu, Piti,” sahut Poti, kakak Piti.

“Ibu, bagian ini kurang beberapa daun. Aku keluar dulu ya, Bu, cari daunnya,” ujar Piti sambil menunjukkan bagian yang dimaksud.

“O iya, Piti. Tetapi kamu harus hati-hati. Jangan pulang terlalu gelap agar kamu nanti tahu jalan pulang ke rumah,” pesan Ibu Piti sambil mengikat daun bersama Poti.

“Baik, Ibu jangan khawatir. Sebelum gelap aku sudah pulang,” sahut Piti.

Akhirnya Piti pun mencari daun yang kurang untuk pelengkap sarangnya. Piti terbang dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya. Daunnya harus daun yang berukuran lebar agar sarang tertutup rapat dan air hujan tidak bisa masuk. Setelah mendapat daun yang dimaksud, Piti pun bergegas pulang.

Namun, nampak dari kejauhan Piti melihat burung seperti dirinya yang asyik tiduran di sebuah dahan. Piti pun mendekatinya. Ternyata burung tersebut adalah Pito, teman Piti.

“Lho, Pito kamu sedang apa?” tanya Piti bertengger di samping Pito.

“Kamu kan lihat sendiri aku sedang tiduran, sejuk di sini Piti. Daunnya sangat rimbun,” sahut Pito ketus.

Arsip Cerpen di Indonesia