Penyesalan Pito, Burung Pipit

Penyesalan Pito, Burung Pipit ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Penyesalan Pito, Burung Pipit ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

Tidak berapa lama, Piti sampai di sarangnya. Daun yang telah didapatkannya kemudian langsung ditempel di bagian yang masih kosong tadi. Akhirnya sarang Piti bersama keluarganya telah jadi. Tiba-tiba hujan pun turun. Dari jendela sarang tersebut dari kejauhan terlihat burung pipit berteriak-teriak sambil minta tolong.

“Tolong… tolong…,” teriak burung pipit tersebut.

Ternyata burung pipit tersebut ialah Pito, teman Piti. Kemudian Piti terbang menolongnya dan membawanya masuk ke sarang keluarga Piti.

“Terima kasih ya, Piti, kamu sudah menolongku. Maafkan aku juga ya, Piti, aku tidak menuruti saranmu. Benar kata kamu hujan turun dengan derasnya, aku juga belum membuat sarang seperti saranmu. Jadi aku bingung cari tempat untuk berlindung,” ucap Pito sambil memeluk sahabat baiknya, Piti.

“Ya, sudah sekarang kamu sudah aman di sarang keluargaku ini. Jika hujan telah reda segeralah membuat sarang, agar kamu nanti tidak kebingungan kembali untuk mencari tempat untuk berlindung ketika hujan turun kembali,” sarang Piti.

Pito pun menyesali perbuatannya karena saran dari Piti tidak dihiraukannya. Hujan telah reda. Pito berpamitan kepada Piti dan keluarganya, kemudian Pito pun bergegas mengumpulkan daun untuk membuat sarang sebagai tempat berlindung bagi dirinya nanti. ***

Arsip Cerpen di Indonesia