Sementara, gedung menjulang yang berdiri kokoh di kanan kirinya semakin berbinar dan berdendang dengan suara keras. Ia semakin pongah. Orang-orang lalu-lalang masuk dan keluar. Berbagai merek mobil terlihat culas dan beringas. Mereka melaju dengan cepat, bermain dengan cepat, bercanda dengan cepat, dan mungkin bercumbu dengan cepat. Entahlah. Yang mereka mau hanyalah kenyamanan, yang mereka tahu hanyalah kedamaian sejenak dan absurd. Lalu, limbah-limbah itu terus mengalir dan mencari celah di ruang yang pengap dan kosong. Ia mengalir dan mengeram seenaknya seakan tanpa dosa. Dan sawah itu semakin pesing dan kotor.
Di tengah perjalanan menuju rumah, setelah berlama-lama berdiam diri sambil mengamati sisa sepetak sawah yang ditinggal penghuninya dan tak tergarap apa pun itu, aku hanya bisa melamun dan berandai. Berharap kiamat disegerakan oleh Tuhan. Biarlah, biar kemuraman yang selama ini membisikiku tak lagi ada.
Malam harinya, setelah makan dan menyesap kopi di beranda, tiba-tiba sepetak sawah itu kembali membisikiku. Membawaku pada masa lalu. Ya, sesuatu yang pernah terjadi di kampungku. Dulu. Entah sekarang. Mungkin sudah lebih parah.
Namanya Pak Matrawi. Ia seorang petani yang giat dan taat. Setiap pagi, sebelum subuh dia sudah bersiap. Hanya menunggu subuh dan setelah itu dia bergegas ke ladangnya yang terkenal subur dan mendatangkan banyak berkah. Mereka sungguh berbahagia dengan satu-satunya sepetak tanah itu. Setiap yang ditanam pastilah tumbuh dengan bagus dan menghasilkan buah yang juga sangat bagus.
Hampir bisa dipastikan bahwa penghidupan keluarga mereka hanyalah dari sepetak tadi. Gabahnya mereka simpan dan sebagian dijual. Jagungnya mereka jual dan sebagian dimakan. Kacang hijaunya juga sama. Tentu— i n i y a n g terpenting— hasil tembakaunya sangat melimpah dan membuat keluarganya selalu merasa sangat kaya.
Jika sudah begitu, mereka tidak segan-segan mengundang tetangga terdekat dan kerabat untuk mengadakan selamatan. Tidak hanya sekali. Ada saja acara yang dihelat. Tujuannya hanyalah satu. Bersyukur dan menyenangkan tetangga terdekat. Bagi-bagi rezeki dan silaturahmi. Mereka yakin dengan cara begitu kehidupan akan terasa tenteram dan lebih mudah. Begitulah nenek moyang mereka selalu mewasiatkan.
Namun, waktu yang culas terus melindas dan semakin ganas. Tak ada kesempatan bagi mereka yang diangap tak berdaya. Tak ada kenyamanan bagi mereka yang diangap tak bermodal. Dan korban pertama yang paling banyak diserang adalah petani. Mereka dianggap kaum lugu dengan segala kesederhanaannya hingga begitu gampang ditipu dan diarahkan masuk ke dalam jurang yang teramat terjal, untuk kemudian dibuang dan dibiarkan menderita, lalu mati pelan-pelan. Tak terkecuali Pak Matrawi.