Bisikan Tanah

Peristiwa mengenaskan itu dimulai sejak kali pertama sebuah perusahaan tambak udang memulai garapannya di sekitar lahan Pak Matrawi. Awalnya hanya kecil saja. Lambat laun mereka mulai meluaskan lahannya dengan mengambil alih kepemilikan lahan-lahan yang berdekatan. Tidak mudah bagi masyarakat melepaskan lahannya, apa lagi yang sudah puluhan tahun mereka tanami dan masih produktif. Namun, harga yang melambung dengan iming-iming yang menggiurkan dengan menggandeng berbagai tokoh disertai teror-teror kecil yang dipaksakan, membuat mereka menyerah. Maka berdirilah tambak itu dengan pongah.

Seluruh sisinya dipagari dinding beton dengan satu pintu utama yang selalu tertutup rapat. Tidak semua orang bisa masuk dengan leluasa bahkan meski sekadar numpang lewat untuk menjaring ikan di laut, atau mengambil rumput untuk pakan ternak. Tak ada satu pun dari masyarakat yang bisa protes meski mereka paham bahwa dulu, saat sosialisasi di kantor desa, mereka menjamin akses jalan satu-satunya tetap akan terbuka lebar dan masyarakat berhak melewatinya. Mereka paham bahwa mereka sudah tak punya dokumen apa-apa dan percuma saja protes karena hanya membuang waktu saja.

Satu-satunya yang bertahan adalah Pak Matrawi. Dia tak mau menjual tanahnya berapa pun harganya. Berkali-kali dibujuk, berkali-kali diancam, berkali-kali dirayu dengan iming-iming menggiurkan. Namun tetap saja. Dia bersikukuh menanami sawahnya seperti semula. Baginya, menjaga sawah tetap subur dan menumbuhkan padi adalah cita-cita mulia. Maka pihak perusahaan mulai menyerah. Hari-hari berjalan seperti semula.

Beberapa tahun belakangan dengan sendirinya sawah Pak Matrawi mulai tidak sehat. Padinya sering mati karena hama, tembakaunya tak harum lagi, hasil jagung dan kacang hijaunya sudah acak-acakan. Dia tahu bahwa sumber dari masalah itu adalah limbah yang sengaja dibuang secara licik oleh pihak perusahaan. Sudah berkali-kali dia mencoba melobi dan menggugatnya kepada kepala desa. Tetap saja tak ada respon. Yang didapatinya malah jauh di luar dugaan. Dia disarankan menjual saja kepada pihak perusahaan. Pak Matrawi hanya diam dan menelan ludah dalam-dalam.

Ah, ia kembali berbisik. Lirih dan sedih. Tidak, kali ini sepertinya suara rintihan yang tertahan. Semakin malam rintihan itu semakin jelas dan menukik-nukik telingaku hingga berdenging nyaring. Mungkin ia sudah tidak tahan dengan semua apek dan pengap yang dibiarkan begitu saja, dengan kemuraman, kesendirian, dan keterlantaran yang menyakitkan. Mungkin saja ia menangis karena sudah tak lagi bisa memberikan apa-apa kepada pemiliknya kecuali hanya bau pesing dan tanah ranggas yang pengap hingga memaksa mereka luntang-lantung atau hijrah ke negeri orang. Mungkin demikian juga dengan lahan Pak Matrawi yang sudah lama tak diapa-apakan. Tak ada pilihan lagi. Namun dia tetap bersikukuh tak ingin menjual. Suatu saat dia berharap kondisi ini akan kembali normal. Jika pun tidak, dia sudah berusaha mempertahankan lahannya dari penyerobotan yang akan megakibatkan kecelakaan lebih besar. Kelak.

Arsip Cerpen di Indonesia