Satu-satunya harapan bahwa tanahnya telah bersertifikat dan disimpan untuk diturunkan kepada anak cucunya. Entah saat itu tanah produktif yang sudah mati itu sudah menjadi apa. Dia pun tak paham. Setahu dia, ini adalah pemberian nenek moyang yang tak boleh jatuh kepada siapa pun. Sesulit apapun. Kabar terakhir yang aku terima bahwa sawah itu kini semakin kumuh dan tak bisa lagi ditanami hingga dibiarkan saja tak bertuan. Pak Matrawi hanya terdiam sambil mencari usaha lain. Sesekali dilihatnya kertas sertifikat yang masih bersih sambil berdoa dalam hati, meminta dengan sepenuh hati.
Semakin malam suara yang membisik dan menangis itu semakin nyaring dan membetot pendengaranku dari apapun. Hanya ada rintihan yang semakin berat dan mendesak. Bahkan, suara-suara yang semakin ramai itu mengikutiku hingga di dalam mimpi. Ya, ia mewujud seseorang di pojok rumahku yang duduk telungkup dan tubuh tergoncang karena tangisannya yang kian nyaring. Aku melihat dengan jelas, air matanya begitu deras mengucur hingga memenuhi hampir seluruh halaman rumahku. Aku telah berusaha membujuk, tetap saja tangisnya semakin nyaring dan air matanya semakin menggenang.
***
Pagi yang bising. Tidak seperti biasanya. Kokok ayam terdengar riuh dan serampangan. Orang-orang mulai berteriak tidak karuan. Dengan setengah kesadaran dan mata yang belum sempurna terbuka aku berjalan sempoyongan ke luar. Langit hitam dan teriakan demi teriakan menambah suram keadaan. Samar-samar suara orang memanggil-manggilku dari jarak yang lumayan jauh. Saat kubuka pintu aku terkejut. Tercekat dan bingung. Air laut naik dua-tiga meter. Di beberapa tempat yang rendah sudah digenangi air. Sawah kumuh itu sudah tak tampak dan bangunan menjulang di kanan kirinya tinggal beberapa bagian. Orang-orang lalu-lalang. Sebelum air menggenang lebih tinggi. Sebelum rumahku tergenangi. Sebelum terlambat. Dengan mata terpicing-picing dan kesadaran dipaksa penuh aku berlari dengan hanya mengenakan kaos oblong dan sarung disaungkan.
Udara pagi ini dingin namun terasa gerah. Debur ombak kian terasa nyaring dan jerit orang-orang mengangkasa hingga menembus langit. Kulihat jauh di sana, air menggenang kian meninggi dan apungan barang-barang yang entah bercampur dengan manusia nampak samar-samar seperti kotoran yang menggenangi sawah beraroma pesing dan apek itu.
Â
Sumenep, Januari 2019
Khairul Umam. Penulis adalah Sekjen MWC NU Gapura, guru di MA Nasa1 Gapura, dan dosen di INSTIKA Guluk-Guluk. Alumni pascasarjana UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan nasional.