Binuang si Raja Kerbau yang Bijaksana

Oleh Vendo Olvalanda S (Padang Ekspres, 10 Maret 2019)

Binuang si Raja Kerbau yang Bijaksana ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Binuang si Raja Kerbau yang Bijaksana ilustrasi Orta/Padang Ekspres  

Suatu hari di pedalaman hutan yang tidak diketahui manusia, terdapat sebuah Kerajaan Kerbau yang begitu megah. Dahulu kerajaan ini dipimpin satu orang pemimpin, namun sang Raja yang sudah tua tak sanggup lagi memimpin kerajaannya. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk mengangkat kedua anaknya menjadi pemimpin kerajaan. Mereka bernama Binuang dan Mahesasura.

KEDUA anaknya itu berasal dari dua orang istri yang berbeda pula. Binuang merupakan seorang pemimpin yang lahir dari ibu yang bangsawan, sedangkan Mahesasura hanya terlahir dari ibu yang seorang rakyat biasa. Perbedaan inilah yang akhirnya melahirkan perselisihan di antara mereka.

Hingga suatu ketika, Mahesasura memberanikan diri berbicara di saat pertemuan kerajaan tengah berlangsung. Di sana, ia pun dengan angkuhnya memaki-maki ayahnya. Bukannya marah, mantan Raja Kerbau tersebut malah meminta pasukannya untuk membiarkan Mahesasura. Bahkan, sang Ayah tetap mendengarkan Mahesasura dengan sangat ramah.

“Wahai anakku. Apa yang membuat kamu mendatangiku dengan penuh amarah seperti itu? Bukankah Tuhan membenci kejahatan?” ujar sang Ayah sembari melepaskan senyum dari singgasananya.

“Jangan pura-pura tidak tahu!” bentak Mahesasura.

Karena kesal, tiba-tiba Jenderal Kerbau menghunus pedangnya dan berkata. “Tolong jaga cara bicaramu! Atau…”

“Cukup! Api tidak bisa dipadamkan dengan api,” bisik mantan Raja Kerbau menenangkan jenderalnya.

Jenderal Kerbau menyarungkan kembali pedangnya. Kagum dengan sifat Sang Ayah, Mahesasura terdiam untuk beberapa saat. Suasana pun kembali tenang.

“Aku ingin punya negeri sendiri. Aku tidak mau memimpin negeri ini berdua dengan Binuang si Rakyat Biasa itu!” hardik Mahesasura kepada sang Ayah.

Seketika, kerajaan terasa sunyi. Tidak ada kerbau yang berani berujar.

Mantan Raja pun berkata, “Baiklah!”

Arsip Cerpen di Indonesia