Rezeki Tak Terduga

Oleh Syamil Irfan Fatoni (Pikiran Rakyat, 10 Maret 2019)

Rezeki Tak Terduga  ilustrasi Ali Parma - Pikiran Rakyatw.jpg
Rezeki Tak Terduga ilustrasi Ali Parma/Pikiran Rakyat 

SORE itu Khalif sedang berjalan menuju Masjid Baitul Mu’min untuk mengikuti rutin anak-anak setiap tari. Jarak dari rumahnya ke masjid cukup jauh, tapi ia tetap berangkat sendiri dan menolak diantar oleh orangtuanya.

Khalif berjalan dengan semangat karena sore itu di pengajian akan diumumkan pemenang lomba menghafal Juz Amma dalam rangka Milad Koperasi Syariah Baitul Mu’min. Khalif sangat berharap bisa menjadi pemenang karena ia yakin saat perlombaan bisa menjawab seluruh pertanyaan juri dengan benar.

Di tengah perjalanan, Khalif melihat selembar kertas berwarna merah tergeletak di pinggir jalan. Ia segera mengambil kertas tersebut dan terkejut mengetahui bahwa itu adalah uang yang cukup besar, Rp 100.000. Khalif berpikir alangkah beruntungnya ia hari itu karena mendapatkan rezeki yang tak terduga. Ia bisa membeli mainan Nerf Firestrike Blaster yang sudah diidam-idamkan sejak lama. Dengan uang yang ditemukannya, ia akhirnya bisa membeli mainan tersebut.

Tiba-tiba Khalif sadar bahwa uang tersebut bukan miliknya. Ia menduga uang yang di temukan itu terjatuh dari saku seseorang dan orang tersebut pasti sedang mencarinya. Akhirnya, Khalif mengurungkan niatnya untuk menggunakan uang tersebut. Ia ingat nasihat kedua orangtuanya untuk berbuat jujur. Khalif menyadari bahwa ia tidak boleh menggunakan uang tersebut, meskípun ia juga membutuhkannya. Untuk itu, ia bertekad akan menyerahkan uang tersebut kepada pemiliknya.

Khalif ialu melihat ke sekeliling, barangkali ada orang yang kehilangan uang tersebut. Namun, tidak tampak seorang pun saat itu. Ia pun menyimpan uang tersebut di sakunya dengan hati-hati dan melanjutkan langkahnya menuju masjid. Ia akan menitipkan uang itu kepada Ustaz Heru, Ketua DKM, untuk menyebarluaskannya kepada masyarakat.

Menjelang sampai masjid, Khalif berpapasan dengan Pak Asep, marbot masjid yang sedang berjalan ke arahnya. Namun, ia kelihatan bingung mencari sesuatu di jalanan.

Arsip Cerpen di Indonesia