Tidak ingin menyalahkan kucing yang mengusik ikan-ikan. Lelaki itu paham, kucing juga perlu makan. Hanya saja ikan-ikan tidak bisa mencari makan sendiri, karena ikan-ikan tidak hidup bebas.
Sungguh sangat mengasyikan bermain-main dengan ikan-ikan. Sebagaimana ikan-ikan itu hidup di air, berenang dan bernapas dengan insang. Menjelma ikan-ikan sungguh mengasyikkan. Bertemu ikan-ikan dan saling menyapa.
Apabila perut sudah terlalu lapar, ada yang memberinya makan. Karena memang semuanya sudah tersedia. Dan hanya tersekat oleh dinding yang hanya memiliki panjang dan lebar secukupnya.
Tidak seperti ikan-ikan di laut atau di sungai. Ikan-ikan di sana seperti manusia. Harus bertahan hidup dan mencari makan. Hanya alamlah yang menyediakan makan. Berdiam di satu tempat, ikan-ikan tidak akan hidup.
Namun, kaki yang diletakkan di kolam itu dikerubuti ikan-ikan. Lelaki itu merasa geli. Lelaki yang menikmati ikan-ikan di bawah kaki, masih tersenyum kegirangan. Tapi, pasti itu sangat menggelikan.
Tentu saja lelaki itu tidak ingin diganggunya. Kecuali ikan-ikan menjauh pergi dari kakinya. Tetapi, ikan-ikan semakin banyak dan jumlahnya tidak bisa dihitung. Lelaki itu sangat keasyikan dan lupa waktu sudah semakin siang. Ikan-ikan tetap bertambah banyak. Di bawah kaki, ikan-ikan berenang dan berlari hingga lelaki itu tertidur.
Semenjak kucing menjatuhkan toples-toples dan ikan-ikan. Lelaki itu tidak bisa melihat lagi ikan-ikan berenang berada di rumahnya. Yang lelaki lihat hanya tubuh terbujur kaku dan ikan-ikan sekarat. (*)
Davit Kuntoro. Dilahirkan di Banyumas, 03 Oktober 1996 dan kini tinggal di Karangnanas, Sokaraja. Aktif menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya termuat di surat kabar.