Salwa mencoba menengok ke tempat tidur Susi yang ditutup gorden tapi, ia tidak melihatnya.
“Susi siapa?” tanya Ibu.
“Susi yang dirawat di ranjang sana!” Salwa menunjuk tempat tidur Susi.
Ibu mengernyitkan dahi.
“Salwa sudah tiga hari ini tidak ada siapa pun yang tidur di sana!” Ucap Ibunya.
Salwa tersentak kaget dengan penjelasan Ibunya, karena sudah tiga hari Susi menjadi teman bicaranya.
“Ibu yakin?” Ucap Salwa. Kepalanya kini malah sakit lagi.
“Tentu saja, selama tiga hari ini hanya Ibu yang menemanimu di ruangan ini,” ujar Ibunya.
Salwa jadi khawatir jika dikira sudah tidak normal oleh Ibunya. Lalu siapa anak yang menemaninya selama tiga hari ini?
Sejak berbicara mengenai Susi dengan Ibu, Salwa tidak pernah melihat Susi lagi. Jika Salwa mulai bercerita tentang Susi, Ibu meyakinkannya bahwa tidak ada yang dirawat di ruangan Melati selain dirinya. Bahkan hingga Salwa dikatakan sembuh oleh dokter, Susi tidak terlihat lagi.
Salwa ingin bertemu lagi dengan Susi. Ia mencoba kembali bertanya pada Ibu. Siapa tahu kini Ibunya melihat Susi. Tapi ibunya tetap yakin tidak ada lagi pasien selain dirinya di ruangan Melati.
Salwa sudah boleh pulang. Tapi, sebelum pulang, Salwa ingin bertemu dulu dengan Susi. Apa yang harus ia lakukan?
Saat Salwa hendak pulang, ia diminta menunggu oleh Ibunya, Salwa melihat seseorang yang dikenalnya.
“Eh, Susi kamu ke mana saja? Kenapa kamu menghilang begitu saja?” tanya Salwa bertubi-tubi.
Anak perempuan itu terlihat heran.
“Apa aku mengenalmu?” tanya anak itu.
“Iya kamu mengenalku. Apa kamu tidak ingat? Selama aku di rumah sakit, kamu yang sering menghiburku!” ucap Salwa makin mengernyitkan dahi.
“Maaf kamu siapa? Kita baru hari ini bertemu,” ucap anak itu.
“Aku Salwa, apa kamu benar-benar tidak ingat? Empat hari lalu aku masuk rumah sakit karena sakit kepala sebelah, dan kamu sudah berada di ruangan Melati selama berbulan-bulan,” ungkap Salwa.