Teman Bernama Susi

“Salwa, namaku bukan Susi, namaku Elis. Aku juga baru sehari ini di rumah sakit. Dan yang sakit itu Ibuku bukan aku.”

Salwa terasa tersengat. Orang di hadapannya mirip dengan orang yang selama ini menemaninya di rumah sakit. Jadi anak itu bukan Susi tetapi hanya mirip saja.

“Oh, aku salah orang ya, maafkan aku,” ucap Salwa akhirnya.

Elis tersenyum sebentar.

“Tetapi jika kamu ingin menjadi temanku boleh kok!” ucap Elis.

Giliran Salwa yang tersenyum. Salwa hanya mengiyakan saja. Lalu mereka bertukar akun Facebook. Lalu siapa yang berada di ruangan Melati selama ini?

Salwa hingga pulang masih tidak tahu siapa Susi. Karena ia menghilang begitu saja. Ia benar-benar khawatir jika sudah tidak normal.  Ia berbicara dengan Sinta, tetangganya dengan hati-hati tentang Susi.

“Apa aku sudah tidak normal ya?” tanya Salwa.

“Apa maksudmu gila? Ah mungkin tidak! Selama tiga hari pertama saat aku terserang cikungunya, sempat aku melihat hal-hal aneh.”

“Hal aneh, seperti apa maksudnya?”

“Seperti melihat sesuatu yang aku takuti secara terus-menerus,” ujar Sinta. Salwa berharap ucapan Sinta itu benar. Ia melihat sesuatu yang tidak biasa karena sakit bukan karena sudah tidak normal.

Arsip Cerpen di Indonesia