Di setiap kunjungannya, Aldric bercerita panjang lebar mengemukakan kesombongannya, dan pada akhirnya akan menawar Beltane Carbenet Sauvignon. Tapi Mabelle selalu menolak. Aldric akan datang lagi paling cepat dua pekan setelahnya dan paling lama sebulan, untuk menanyakan hal yang sama. Mabelle akan menjawab hal yang sama pula.
Kehidupan Mabelle semakin memprihatinkan, ditambah Aldric yang tak bosan menghantuinya. Ia sudah tak punya uang. Chateau sudah melompong. Tabung-tabung oak berserakan di dalamnya, selebihnya adalah debu dan sarang laba-laba. Ia sudah berusaha menjual kebun, tapi tak ada satu pun yang mau membeli, bahkan setelah dibanting harga, hasilnya sama. Mabelle mengira ini ada hubungannya dengan Aldric yang begitu terobsesi pada Beltane Carbenet Sauvignon. Untung saja masih ada Merry yang masih rutin memberinya persediaan bubuk cokelat, biskuit, keju, dan croissant untuk menyambung hidupnya yang kian merana.
Kelihatan benar Aldric tak akan menyerah. Perjuangan selama dua tahun terakhir baginya adalah suatu keseriusan yang luar biasa. Meski Mabelle akan mengatakan hal yang sama, Aldric mengajak Mabelle tenang. Dengan pelan ia menyuruh Mabelle untuk tabah dan bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakannya, sebuah hal rahasia. Aldric menerangkan bahwa ia mengetahui Beltane Carbenet Sauvignon dari Beltane sendiri. Ia mengaku bahwa Beltane memberitahunya sebulan sebelum Beltane meninggal. Aldric bilang bahwa ia adalah anak hasil perselingkuhan Beltane dan Paule, wanita yang ditemuinya di sebuah klub di Paris. Ia memperlihatkan secarik foto yang memperlihatkan kemesraan Beltane, seorang wanita, dan laki-laki kecil. Aldric menyadari tak berhak atas warisan Beltane, karena ibunya hanya selingkuhan.
Mabelle terlihat benar-benar terkejut. Mendadak ia merasakan sakit yang luar biasa. Apa-apa yang dipertahankan selama ini, diganjar dengan pengkhianatan lama yang baru terungkap.
“Datang kembali besok, langsung masuk. Wine-nya ada di atas meja makan di depan perapian.”
***
Aldric melelang Beltane Carbenet Sauvignon di New York dengan harga tinggi. Sebotol wine yang hanya ada satu. Tak menunggu lama, wine langka itu terjual dengan harga fantastis. Pemenang lelang terlihat gembira. Ia memamerkan botol wine mahal itu sebelum pada akhirnya dicicipi. Pembeli dari Amerika itu sangat kecewa. Ia merasa ditipu.