Apakah Rumah Kita akan Tenggelam?

Ada raut wajah yang kecewa. Ayah baru saja melihat kondisi sawah yang dihantam banjir. Tanggul irigasi jebol. Padi yang hanya butuh sepuluh hari untuk di panen, sudah tidak bias tertolong. Demikian pula dengan tanaman padi ayah yang tidak bisa terselamatkan. Gagal panen kembali mengancam. Ia duduk di amben teras. Aku tidak berani menyapa. Ibu datang membawa kopi.

“Sudahlah, ikhlaskan saja. Mungkin itu bukan rezeki kita. Mungkin ini cobaan dari Allah,” ucap Ibu. Ayah menarik napas panjang, seperti meringankan beban yang di dada. Terkadang hal yang paling sulit itu adalah menyadari bahwa ini hanyalah titipan, kata ibu, mencoba menenangkan.

“Ibu tahu, nanti atau besok lusa kita makan apa?” keluh ayah.

“Seekor cicak yang hidupnya hanya menempel di dinding, sedangkan mangsanya bisa terbang ke mana pun yang mereka inginkan, tapi tidak ada cicak yang mati kelaparan. Jangan khawatir, rezeki sudah ada yang mengatur,” tutur Ibu.

Sementara gemerincik air hujan tumpah. Air mengetuk-ngetuk atap. Pagi menjelang siang, matahari tidak tampak. “Hujan adalah perwujudan dari nikmat Tuhan bagi alam,” kata ibu. Sebisaku menangkapnya. Namun, dalam keadaan diterangkan secara terperinci, aku baru bisa paham. Kemudian, aku menduga, bahwa air merupakan sumber kehidupan. Mungkin dugaanku ini tidak salah, karena banyak contoh yang bisa aku temukan. Ya, contoh yang melekat yaitu aku minum air setiap hari 8 gelas per hari. Itu menandakan, apa yang diucapkan ibu benar adanya.

Hujan turun dengan deras. Petir mengamuk. Pohon randu di belakang rumah menjadi sambarannya. Suara begitu menghentak. Langit gelap. Hujan ini benar-benar menakutkan. Aku lihat ibu memegang dadanya. Wajahnya pucat sambil meringis kesakitan. Semakin lama semakin lemas. Ia duduk di ranjang ruang tamu. Lampu padam. Semakin lama semakin air sudah masuk ke dalam rumah. Hujan seperti tak ada ujungnya. Aku mendekatinya dengan penasaran penuh. Ia lemas tak berdaya. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi tidak ada reaksi apa pun. Jantungku berdekup kencang.

Aku memanggil ayah dengan suara jeritan yang tidak jelas di tengah-tengah gemuruh hujan. Ayah bergegas menuju ruang tamu secepatnya kilat, membawa wajah panik. Hari ini, air hujan dan air mata bercampur menjadi kesedihan, kegetiran dan semua hal yang tidak menyenangkan mengendap di rumah ini. Apakah rumah ini akan tenggelam bersama semua itu?

Untuk sesaat, aku hanya bisa menelan ludah. Mataku memanas dan darahku seperti berhenti mengalir. Setelah itu, air mataku mengalir. Demikian pula ayah yang meraung-raung memilukan, diselingi suara petir. Aku tidak tega melihatnya. Dan ini adalah keadaan yang paling sulit selama hidupku.

Arsip Cerpen di Indonesia