Membuat Sapu Lidi

Oleh Sarah Akmalia Zakiyah (Pikiran Rakyat, 17 Maret 2019)

Membuat Sapu Lidi ilustrasi Ali Parma - Pikiran Rakyatw.jpg
Membuat Sapu Lidi ilustrasi Ali Parma/Pikiran Rakyat

Bu Dina memberikan tugas kepada murid-murid kelas IV agar membuat sapu lidi sebanyak satu buah. Mereka diberi waktu selama dua pekan. Ketika wali kelas tersebut memberikan perintah, aku teringat seorang pembuat sapu lidi di kampungku yang bernama Bi Amah. Ya, dia membuat dan menjual sapu lidi dari pohon kelapa. Ukurannya tinggi dan harganya terjangkau. Ia jual sapu lidi tersebut ke tetangga atau ke pasar. Bahkan sering ada orang yang datang ke rumahnya khusus untuk membelinya.

“Kalian harus buat sendiri ya! Jangan menyuruh orangtua apalagi membeli dari orang lain!” kata Bu Dina.

Dua pekan kami libur sekolah setelah pembagian buku rapor di semester ganjil. Tugas yang diberikan itu sengaja agar murid-murid tak main terus. Waktu terisi dengan kegiatan positif seperti membuat sapu lidi.

Sepulang pembagian rapor dari sekolah, aku mengambil dompet dari tas. Uang sebesar Rp 6.000 kuambil dari dompetku yang berwarna merah muda. Bergegas aku menuju rumah Bi Amah yang berada di sebelah barat rumahku.

“Punten!” kataku sambil mengetuk pintu.

“Mangga!” terdengar ada jawaban seorang perempuan dari dalam. Senyumnya mengembang menyambutku.

“Mala? Perlu sapu lidi ya?” tebaknya.

“Iya, Bi. Masih ada?” tanyaku penuh harap.

Tak disangka. Ternyata sapu lidi buatannya baru saja ada yang memborong. Dibeli semua untuk dijual kembali di kota oleh pengepul. Aku merasa kecewa.

“Kapan mau membuat sapu lagi?” aku masih punya harapan.

“Entahlah, Neng. Nanti jika sudah ada, akan Bibi sisihkan untukmu,” janji Bi Amah.

Dua hari kemudian, aku kembali ke rumahnya. Siapa tahu Bi Amah sedang membuatnya lagi. “Bibi entah kapan akan membuatnya lagi, Neng. Karena Bibi sedang disibukkan membuat kue saroja untuk dikirim ke saudara Bibi yang akan hajatan,” jawaban Bi Amah membuatku hilang harapan.

Arsip Cerpen di Indonesia