Di tengah kepungan air, dan hujan lebat aku menerobosnya dengan susah payah. Aku ke rumah Lek Marsam untuk meminta pertolongan. Ia berusaha untuk menenangkanku. Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan bahasa isyarat. Dan, sepertinya ia paham. Ia bergegas menuju rumahku. Aku menguntit dari belakang. Kemudian, ia langsung berlari menyusuri banjir menuju langgar untuk mengumumkan lewat pengeras suara. Suara itu samar bersama gemuruh hujan. Meskipun begitu beberapa orang berdatangan ke rumahku untuk melihat mayat ibuku.
Orang-orang bertanya-tanya ada apa dengan ibu. Ayah dengan sesenggukan, menjelaskan, bahwa ibu punya riwayat penyakit jantung. Mungkin saja, ketika petir menyambar pohon randu di belakang rumah, ia kaget dan penyakit jantungnya kumat.
Hujan reda. Orang-orang mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman ibu. Meski hujan telah reda, jalanan masih terendam banjir. Kali ini, banjir hanya mencapai lutut orang dewasa. Yang menjadi persoalan sekarang adalah beberapa area pemakaman terendam air. Tentu saja, ini akan menyulitkan para penggali kubur untuk menggali liang lahat. Orang-orang, terutama ayah yang berusaha tegar pemikiran pemakaman ibu.
Pepunden desa memberikan saran, agar pemakaman ibu ditempatkan di daerah yang tidak tergenang air. Dengan kata lain, pemakaman akan ditempatkan di daerah dataran tinggi. Itu berarti di sebelah utara desa, melewati hutan jati dan nantinya akan mendapati padang gembala yang luas.
“Pemakaman harus cepat dilaksanakan, biar tidak berlarut-larut, apalagi sebentar lagi matahari akan tenggelam,” ucap pepunden desa.
***
Setelah pemakaman ibu selesai dilakukan beberapa hari yang lalu, ayah dan aku sering berziarah ke pemakaman ibu. Ada gundukan tanah bernisan dua kayu jati menghadap ke utara. Sementara, di tempat ini, aku menemukan padang gembala yang luas. Sejuk dan gunung-gunung berbaris indah, tetapi ada perasaan khawatir. Entahlah.
Apakah kuburan ibu aman? Ucapkku dalam hati. Aku khawatir jika suatu saat nanti, tempat ini akan menjadi pertambangan minyak seperti di tempat-tempat yang lain. Aku takut makam ibu akan terbengkalai, bahkan bisa saja akan digusur. Dan, tidak ada lagi persemayaman terakhir ibu saat aku ingin sekadar menyambangi kuburan ibu. Ibu sudah tiada, apakah kuburan ibu juga demikian?
Anas S. Malo, lahir Bojonegoro, Belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta.