“Jadi ibumu sudah menikah lagi?”
“Tidak. Mereka mungkin tidak menikah,”
“Mungkin? Bukankah mereka tinggal bersama?”
“Pernah.”
“Sekarang di mana laki-laki penjajah itu?”
“Hei, jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun dia Bapakku.”
“Aku dari Timur Jauh. Kamu tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap kaum kami?”
Nalu terkikik-kikik, kawat giginya tampak seperti kawat berduri di zaman perang. Biasanya yang bersikap masa bodoh memang si kribo. Pemuda itu seperti tidak sungguh-sungguh kasmaran pada Nalu. Waktunya tidak banyak ditumpahkan untuk gadis itu. Dia tidak pernah bertanya hal-hal yang umumnya ditanyakan seseorang pada pujaan hatinya. Mahrus lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaannya di beberapa bidang. Karena pernah belajar di sekolah tinggi komputer, dia banyak menerima pesanan desain. Dia juga senang memotret dan bikin video, ikut dalam proyek-proyek teater dan bergabung dengan sebuah kelompok musik. Situasi itu membuat Nalu sering senewen. Berbagai cara dilakukan untuk memancing Mahrus agar lebih memberikan perhatian. Jika ada tugas dari kampus, Nalu merengek-rengek pada Mahrus supaya dibantu. Sesekali memang berhasil, tapi lebih sering Mahrus mengabaikannya.
Lalu suatu hari tiba-tiba Nalu berniat membeli kucing. Pikiran itu muncul setelah ia berbincangbincang dengan bapak-keduanya melalui saluran telepon. Laki-laki Portugis itu sedang berada di luar negeri untuk suatu urusan yang tidak diketahui. Seekor kucing Himalaya bermata merah berhasil dibelinya. Mahrus tertarik dengan gagasan memelihara kucing karena gagasan itu tidak klise, berbeda dengan gagasan pergi berlibur atau membuat miniatur rumah tangga sambil membayangkan kebahagiaan-kebahagiaan yang belum tentu terjadi. Namun setelah dibeli ternyata Ibu Nalu tak mengizinkan anaknya memelihara kucing di rumah. Meski kedua adik Nalu bersorak-sorak melihat kucing gendut itu dan ikut merayu ibu mereka agar memberi izin, larangan tetap larangan. Ibu Nalu bergeming dan tampaknya akan tetap bergeming meskipun sudah tiba saatnya datang hari kiamat.