Setelah peristiwa itu mereka nyaris tidak pernah lagi bertemu.
Tapi suatu malam, Nalu tiba-tiba muncul di kos Mahrus. Penampilan Nalu sungguh berbeda. Bila sebelumnya ia berpakaian longgar dan tertutup, kali ini ia mengenakan tank top, celana jins yang sudah dipotong pendek, serta sepatu boot. Ia juga memakai lipstik dan penggaris mata warna hitam. Nalu membawa makan malam, serantang besar sup daging dan nasi putih serta sambal dan krupuk. Lantaran sedang lapar, Mahrus yang terheran-heran dengan penampilan Nalu menyimpan rasa penasarannya dan langsung menerima tawaran makan bersama. Mereka makan dengan lahap. Dagingnya empuk dan manis.
“Enak,” kata Mahrus. “Daging apa ini?”
“Daging kucing,” kata Nalu.
(Kekalik, 2018)
Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).