Asmara Nalu Yasaya

Mau tak mau terpaksa kucing itu ditaruh di rumah kos Mahrus Putra. Si kribo tidak keberatan. Mahrus senang dengan si kucing, memotretnya beberapa kali, juga sempat membuat video untuk dipamer-pamerkan. Namun, pada hari-hari berikutnya, kerepotan mulai dirasakan. Dia harus bertugas memberi makan dan memandikan si kucing. Lagipula, Nalu jadi lebih sering datang ke kosnya. Atau kalau dia sedang berada di luar, Nalu kerap menghubunginya hanya untuk menanyakan keadaan si kucing, atau meminta Mahrus menemaninya bermain bersama hewan jinak itu. Karena beberapa kali Mahrus tak melaksanakan tugasnya, sampai si kucing jadi kelihatan kumal dan uring-uringan, akhirnya Nalu memutuskan untuk membuat duplikat kunci kos supaya ia bisa datang sendiri kapan saja ia mau.

“Ini benar-benar miniatur rumah tangga,” kata Mahrus Putra pada dirinya sendiri suatu kali ketika mereka berdua sedang berada di kos dan Nalu asyik bermain dengan kucingnya. Saat itu, sudah beberapa kali Nalu meminta Mahrus mandi, bagaikan seorang ibu menyuruh anaknya mandi. Nalu bahkan memaksa untuk membuka pakaian Mahrus. Si kribo menolak, malah meminta disiapkan makan. Nalu menolak, mereka bertengkar. Nalu merajuk dan membawa kucingnya pulang ke rumah.

Mahrus Putra berpikir kalau Nalu sedang berusaha memasuki dunianya, mencoba mengaturaturnya, menjadikannya laki-laki yang sesuai dengan yang diinginkan Nalu. Sebenarnya Mahrus tidak marah dengan itu, dia hanya merasa kasihan, sebab dia yakin, Nalu takkan berhasil. Lagipula, Mahrus memilih Nalu justru karena berpikir Nalu akan memiliki dunianya sendiri, sebagaimana Mahrus memiliki dunianya sendiri.

Setelah pertengkaran itu, mereka jarang bertemu. Mahrus memutuskan untuk mencari Nalu ke rumahnya. Ibu Nalu yang tetap bergeming melarang anaknya memelihara kucing di rumah kali ini berhadapan dengan sikap bergeming pula dari anaknya. Dua orang perempuan yang sama kerasnya bertengkar; itu seperti melihat seseorang berdiri di depan cermin dan berkelahi dengan bayangannya sendiri. Waktu Mahrus datang ke rumah Nalu, Ibu Nalu seperti mendapat sasaran baru. Si kribo itu memang tidak dicaci-maki, tapi kata-kata Ibu Nalu sudah diartikannya sebagai hinaan, “Satu ekor kucing saja tidak boleh ada di rumah ini, apalagi dua!” kata perempuan itu. Mahrus segera angkat kaki dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah datang lagi ke rumah itu. Nalu mengejarnya dan lantas meraung-raung di kakinya, memohonkan maaf bagi ibunya. Mahrus berkata, “Mungkin aku akan jadi seperti ayahku, dan kamu akan jadi seperti ibumu. Tapi aku tidak mau jadi seperti ayahku, dan kuharap kamu juga tidak mau jadi seperti ibumu. Kita harus punya dunia sendiri-sendiri, hanya dengan itu kita bisa membangun dunia kita bersama,” Nalu melongo mendengar kata-kata itu, ia berpikir pastilah Mahrus merasa sedang berada di panggung sandiwara. Tidak biasanya si kribo yang masa bodoh terhadap banyak hal itu bicara demikian bijak. Tapi Nalu ingat Mahrus pernah bercerita kalau ayahnya terus memaksa dia bekerja di sebuah perusahaan, sesuatu yang tidak ingin dilakukannya.

Arsip Cerpen di Indonesia