Ikram dengan sigap memberikanku informasi setiap saat sesuai dengan situasi dan perkembangan. Hanya dengan imbalan beberapa rupiah saja, informasi tentang tingkah Rinnai dan Yuddy selalu terpantau olehku.
“Kemarin Bang Yuddy dan Kak Inai pergi ke pesta kawannya Bang Yuddy. Mereka pergi berdua dengan mobil Bang Yuddy, ” lapor Ikram padaku.
Tentu aku tak bisa menerima hal itu. Aku lebih pantas untuk mendapatkan ruang dalam hati Rinai, aku lebih senior dari Yuddy. Kenapa tak kau tunggu pegawai baru lain saja, gumamku dalam hati.
Hari kian petang. Semua karyawan di kantorku sudah pulang kecuali aku dan Ikram. Di bawah pohon kelengkeng belakang kantor itu, aku galau. Memandang langit. Terlihat awan dan beberapa bangau putih pulang ke sarang.
“Oh tuhan, cinta macam apa ini, mengapa aku harus jatuh cinta lagi?”
Puntung-puntung rokok berserakan di lantai. Rokok yang kubeli satu bungkus tadi siang hanya tersisa dua batang lagi. Tak biasanya aku seperti itu. Ikram yang sedang menyiram bunga di taman sesekali melirik kepadaku. Meski tak kuceritakan, sepertinya ia tahu apa yang sedang kurasakan.
Bu Khamisah, pegawai yang dua tahun lagi memasuki masa purnabakti itu, sepertinya juga memperhatikan gerak-gerikku selama ini.
“Agam, aku pernah muda juga, dan apa yang sekarang kau rasakan itu, aku juga mengalaminya,” katanya suatu sore. “Cuma sekarang aku sudah menyadari bahwa itu semua, hanya nafsu bukan cinta.”
***
Bus patas seri terbaru yang kami tumpangi melaju kencang, bak kijang dikejar singa di padang sabana. membelah rerimbunan belantara. Jalan negara yang baru saja dibangun dengan dana otonomi khusus itu mulus mengkilap diterpa mentari pagi. Liukannya seperti ular raksasa jika dilihat dari ketinggian. Diperindah dengan penegasan marka putih pembagi ruas jalan. Laksana alis sulam di kening artis ibu kota. Perjalanan ini terasa begitu indah dan menyenangkan meskipun terasa singkat.
Perjalanan yang sudah ditempuh delapan jam berlalu tanpa terasa. Ah, nikmat tuhan mana lagi yang hendak kamu dustakan. Pelantang suara tepat di atas kepalaku. Terdengar suara merdu Ebit G Ade yang sedang melantunkan tembang-tembang terbaiknya. Sepertinya, sopir bus iini tahu selera penumpangnya.