Lelaki yang Jatuh Cinta pada Bunga

Sementara Ikram, dibantu Pak Juned sedang mempersiapkan kambing guling. Aroma daging terbakar sesekali berembus menggoda kami untuk cepat-cepat menyelesaikan acara seremonial dan menghadap hidangan.

***

Sudah sepekan Rinai tidak muncul di kantor. Aku bertanya-tanya, kemanakah dia pergi. Aku mencoba mendatangi bagian personalia tempat dia bertugas. Tak sengaja, kulihat tumpukan di atas meja kerjanya. Ada tumpukan surat undangan. Aku penasaran. Ada namaku disitu. “Yang terhormat Bapak Agam Fahlevi dan Keluarga”, tertulis di surat undangan merah jambu itu. Yakin surat itu ditujukan kepadaku, kubuka dan kubaca: kami yang berbahagia, Rinai Mutiara Senja & Ahmad Zaky Furqany. Jantungku berdegup keras. Rinai menikah dengan seorang yang namanya tidak asing bagiku. Kubuka telpon genggamku, kutelusuri nama lelaki itu. Dan ternyata itu kawan kuliahku yang mantan kekasihnya kurebut menjadi istriku.

Sebuah pesan aplikasi Whatapps masuk.

“Papa nanti sore cepat pulang ya! si Adek, demamnya kambuh lagi. Love you Papa.”

Buliran bening dari ujung kedua mataku menetes. Aku tersadar, ada yang haram mendenyut dalam jantungku. Bukan cinta tapi nafsu.

Aku berbalik. Di kejauhan kulihat Yuddy di pojokan lobi. Duduk tertunduk lesu. Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu.

 

Mustafa Ibrahim Delima, koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe), chapter Pidie Raya.

Arsip Cerpen di Indonesia