Lelaki yang Jatuh Cinta pada Bunga

Ini adalah perjalanan kami ke Brastagi, Sumatera Utara, dalam rangka pelepasan purna tugas Pak Robby, manajer keuangan yang akan memasuki masa pensiun bulan depan sekaligus family gathering perusahaan. Bus ini sudah disewa perusahaan untuk mengangkut rombongan kami yang berjumlah hampir 50-an orang.

Tepat di bangku depanku, duduk Rinai dan dua anaknya. Sementara aku, duduk bersebelahan dengan Ikram, detektif upahanku itu. Dalam perjalanan ini aku terus memperhatikan Rinai. Sesekali aku membayangkan aku telah menjadi suaminya. Aduh betapa bahagianya aku andai menjadi lelaki yang beruntung itu. Agar aku bisa duduk dekat dengan Rinai, aku membayar Ikram lima puluh ribu.

“Inai, anak-anak, mau coklat?” kataku membuka percakapan sambil menyodorkan beberpa butir cokelat yang tadi sengaja aku bawa. Kuakui meski kemampuan komunikasiku tergolong bagus – kata kawan-kawanku – namun ketika aku sedang berbicara dengan Rinai, suaraku terbata-bata. Ada sesuatu yang menyesak dalam tenggorakan.

Aku berharap ia mengambilnya, setidaknya untuk anak-anaknya.

“Wah boleh banget, makasih ya, Abang.”

Rinai mengambil dengan cepat. Kalau sudah berbicara, Rinai, terlihat begitu manja. Di kantor, Rinai sering memanggil karyawan laki-laki yang lebih tua darinya dengan sebutan abang tinimbang bapak. Sekilas, suaranya yang  serak-serak manja itu membuatku menjadi terbawa perasaan. Baperan, kata anak-anak muda zaman sekarang.

***

Pak Benny, kepala kantorku, berdiri di depan mendampingi Robby. Halaman belakang vila tempat kami menginap telah disulap menjadi tempat acara seremonial. Lampu-lampu hias memancarkan beragam warna. Menambah kehangatan dan romantisnya acara itu. Sementara itu, di atas karpet sudah dihidangkan berbagai jenis makanan.  Di antara beberapa jenis makanan aku sempat melirik lobster lada hitam, makanan kesukaanku.

Acara yang berkonsep pesta taman dan dirancang oleh Rinai berlangsung meriah. Rinai menjadi pembawa acara. Dia memang cukup piawai mengenai hal-hal seperti itu.  Sementara Lia dan Mira sesekali tersenyum sinis melirik Rinai yang sedang ngemci.

Kami membentuk formasi setengah lingkaran.  Karpet digelar di atas rerumputan taman. Yuddi, bocah ‘ingusan’ yang sedang bersaing denganku itu, duduk berhadap-hadapan denganku. Ingin rasanya kupegang kerah bajunya. Kugosok cabe rawit di bibirnya. Kutonjok mukanya. Tapi salahnya apa? Bukankah dia juga berhak juga jatuh cinta? Yuddy anak yang baik. Bahkan, aku sering meminta bantuannya terlebih  jika sesuatu terjadi pada komputerku. Ia sarjana teknik informatika. Tapi karena dia sering melirik Rinai membuatku jengkel padanya.

Arsip Cerpen di Indonesia