Bapak Suci menghela napas pelan. Ia memandang lekat pada Tuan Kuasa.
“Sejujurnya saya sudah lama ingin mengatakan hal ini kepada Tuan. Namun Tuan terlalu sibuk. Saya rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk mengutarakan.”
“Ada apa, Bapak Suci? Ceritakan pada saya segera!” pintanya tak sabar.
Dengan wajah muram, Bapak Suci pun berkata, “Selama tiga bulan ini saya bermimpi. Mimpi yang selalu sama: bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.”
“Oh, tidak! Itu sangat menyeramkan. Namun apa hubungannya dengan saya?”
Bapak Suci bermenung sejenak. Tuan Kuasa menggeser duduk, tak sabar menunggu jawaban.
“Tuan ada di sana,” jawab Bapak Suci murung, “di antara tubuh-tubuh yang menyala oleh bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, serta suara jeritan yang tak terselesaikan.”
Mendengar itu, seolah darah menghilang dari wajah Tuan Kuasa. Sesaat ia takut. Namun yang terjadi kemudian, ia malah marah dan gusar.
“Tidak mungkin saya ada di sana! Bapak Suci tahu, saya telah berbuat banyak untuk rakyat dan negeri ini. Banyak orang memuji dan meniru cara saya menjalankan kekuasaan. Mana mungkin saya ada di tempat mengerikan sebagaimana Bapak Suci katakan?”
Wajah Bapak Suci makin muram. Ia menunduk. Ia tahu persis bagaimana Tuan Kuasa menjalankan kekuasaan sehari-hari. Ia pun telah memberi banyak nasihat. Namun tak semua Tuan Kuasa jalankan.
“Saya mengubah desa dan kota yang sepi dan muram menjadi pusat-pusat perdagangan yang ramai. Saya membangun tempat-tempat indah di segala penjuru agar seluruh dunia tahu betapa megah negeri yang kita huni. Saya pun membuat aturan yang mampu menertibkan kejahatan, menjadikan negeri kita tempat aman untuk dikunjungi. Saya mendapat banyak penghargaan dari negara-negara lain atas keberhasilan saya memimpin. Lantas, bagaimana mungkin saya tidak diterima Langit?”
Bapak Suci mengangkat wajah, kembali memandang lekat Tuan Kuasa, berharap kali ini Tuan Kuasa benar-benar mendengar nasihatnya.
“Tuan Kuasa yang bijaksana, datanglah ke pelosok-pelosok negeri, ke sudut-sudut tersembunyi oleh kemegahan bangunan. Ketuklah pintu rumah penduduk. Jika Tuan masih menemukan orang tua, perempuan, dan anak-anak berperut lapar akibat kemiskinan, Langit tak akan menerima Tuan, bahkan Tuan pun tak akan mencium aroma surga.”