Sebuah Cara Jitu Menghapus Kelaparan dan Kemiskinan

Dalam penglihatannya, orang tua, perempuan, dan anak-anak berkumpul di sebuah lubang sangat besar dan dalam. Berbaju lusuh bertambal. Sebagian mengangkat kedua tangan ke udara, sebagian memegangi perut dengan wajah pilu. Ratapan dan erangan tergambar dari mulut-mulut mereka yang tak bersuara.

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari langit. Mereka bersorak, memperebutkan benda yang makin deras jatuh ke dalam lubang. Orang-orang tua meraup benda itu dan dengan gemetar memasukkan ke dalam mulut, para perempuan mengunyah cepat-cepat dan tak sabaran, anak-anak menggigit dan menjilati sisa-sisa benda di tangan dengan rakus. Cokelat-hitam wajah dan tubuh mereka. Semua menjadi cokelat hitam hingga akhirnya Tuan Kuasa tak dapat lagi melihat tangan atau kepala mereka. Terkubur oleh benda cokelat hitam yang jatuh dari langit. Tanah.

***

Pagi ini, Tuan Kuasa sembuh dari demam. Darah mengalir hangat di sekujur tubuh. Cemas dan sakit lenyap dari badan. Setelah demam semalam, penglihatan akan bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan telah menghilang, berganti penglihatan baru tentang orang tua, perempuan, dan anak-anak yang berkumpul di dalam lubang sangat besar dan dalam.

Tuan Kuasa tersenyum lega sekarang. Ia menemukan cara jitu menghapus kelaparan dan kemiskinan, sehingga kelak langkahnya ke surga tak terganjal lagi. Segera ia bangkit dan mengumpulkan pasukan. (28)

 

Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennya Warna Cinta(-mu Apa?). Cerpennya dimuat Kompas dan Suara Merdeka. Tulisan lain dimuat di blog lifestyle beritasatu.com, jakartabeat.com, galeribukujakarta.com.

Arsip Cerpen di Indonesia