Tuan Kuasa terdiam. Lalu katanya dengan sedih, “Jika ternyata saya tak memiliki rakyat miskin yang kelaparan, apakah itu berarti mimpi Anda keliru dan sesungguhnya saya akan masuk surga?”
“Jika Tuan memang pemimpin yang adil dan bijaksana, yang menempatkan kepentingan dan kesejahteraan seluruh rakyat kecil, saya yakin tak ada yang bisa menghalangi Tuan membuka Gerbang Langit dan memasuki surga-Nya!”
Itulah kata Bapak Suci. Itu pula yang selalu terngiang dalam kepala Tuan Kuasa yang menyebabkan dia kini hidup tak tenang dan menderita.
Sepulang dari Kuil Putih, Tuan Kuasa segera memerintah para menteri pergi ke pelosok-pelosok, mengetuk pintu rumah penduduk, mencari tahu adakah orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lapar akibat kemiskinan.
Laporan para menteri sangat mengejutkan. Tuan Kuasa duduk terenyak di kursi setelah mendapati begitu banyak angka yang memperlihatkan jumlah rakyat miskin dan kelaparan di negerinya. Seluruh tubuhnya gemetar. Terbayang lagi bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.
Tuan Kuasa mencoba menenangkan diri, berpikir jernih. Ia mengadakan rapat dengan para menteri dan kalangan intelektual, mencari jalan keluar bagaimana menghilangkan kemiskinan. Namun apa pun yang mereka ajukan sebagai penyelesaian, tidak mungkin ia laksanakan.
Jumlah kaum miskin terlalu besar. Negeri ini akan bangkrut jika harus memberi subsidi demi mengisi perut lapar mereka. Para menteri juga protes ketika kaum intelektual menyarankan para pejabat negara menyerahkan setengah kekayaan mereka untuk dibagikan kepada si miskin.
Tak ada jalan keluar! Itulah yang membuat Tuan Kuasa gusar. Tak ada yang tahu kapan seseorang mati. Namun Tuan Kuasa ingin mati dengan tenang, dan masuk surga.
Minggu demi minggu berlalu. Tuan Kuasa makin menderita karena penglihatannya yang makin jelas tentang bara, api, mulut-mulut manusia meleleh dan jeritan yang tak terselesaikan. Akhirnya, ia pun sakit.
Namun, sakit dan obat-obatan tak dapat membuatnya tertidur nyenyak barang sebentar. Kantuknya benar-benar dimakan rasa takut dan depresi. Ketika demam mencapai puncak, di antara gigil dan peluh tak berkesudahan, Tuan Kuasa mendapat penglihatan lain dari biasa.