Hikayat Ular dalam Mimpi Pemuda Samin

Di ataran kampung Kelingi, dari hulu hingga ke hilirnya, tiada yang meragukan keluguan Samin. Kerjanya sehari-hari hanya menganyam keranjang rotan dan berburu madu di puncak-puncak pohon sialang. Sesekali, dia dipanggil apabila ada yang keseleo, sendi bergeser, ataupun patah tulang. Hanya sebatas itulah hubungan Samin dengan orang-orang, selebihnya hampir-hampir tidak ada yang betah berlama-lama bicara dan dekat dengannya.

Samin hidup sebatang kara. Ibu dan bapaknya telah mati ketika dia masih belum cakap mengelap ingus sendiri. Hanya Mak Rabiah yang mengasuhnya. Perempuan bungkuk yang nyaris buta itu, dikatakan memungut Samin di sebuah gubuk di tepi hutan Kemuning dua puluh lima tahun yang lalu. Namun meskipun begitu, tak ada yang benar-benar tahu riwayat Samin, sebab tali riwayat itu telah terputus sejak kematian Mak Rabiah sepuluh tahun yang lalu.

Lain riwayat Samin, lain pula riwayat Bakar. Sejak terpilih menjadi kepala kampung, dia telah berencana membuka hutan Kemuning. Di kampung-kampung tetangga, telah ramai orang-orang mengganti ladang dan huma mereka dengan tambang batubara. Dengan kemahiran menarikan lidahnya, Bakar meyakinkan orang-orang untuk melakukan hal yang sama.

Iming-iming yang digaungkan Bakar, membuat orang-orang tergoda. Hasil dari tambang itu akan dibagi rata untuk setiap kepala keluarga. Iming-iming itu juga membuat orang-orang bersetuju dengan rencananya, tak peduli meskipun pada hutan itu, melekat sebuah legenda yang berasal dari tuturan para tetua.

Dalam kepercayaan lama yang diriwayatkan turun-temurun, bahwasanya di kerimbunan hutan Kemuning, bersemayam Puyang Teduang Berampo. Banyak yang mengisahkan, bahwa perwujudannya adalah ular sebesar pohon kelapa, bermata hijau dan bermahkota.

Dahulu, jauh sebelum listrik, tower selular, dan segala alat centang-perenang peranti simbol kemajuan itu masuk ke kampung Kelingi, tiada satu orang pun yang berani menebang pohon-pohon di hutan Kemuning. Cerita-cerita penuh petatah-petitih dari lisan para tetua, diaminkan dan diletakkan di atas nampan agar tiada terkena bala apabila melanggarnya. Tetapi kini, cerita-cerita itu hanya menjadi dongeng belaka, pengantar tidur si buyung dalam buaian, tak bisa dinalar dengan ilmu pengetahuan.

Arsip Cerpen di Indonesia