Pagi masih belia ketika Bakar dan puluhan lelaki dari kampung Kelingi beramai-ramai mendatangi hutan Kemuning. Di bahu dan punggung mereka terpanggul pacul dan beliung. Orang-orang itu mulai melaksanakan apa yang telah mereka sepakati tiga malam sebelumnya di rumah Bakar.
Selanjutnya, di bawah arahan Bakar, masing-masing dari lelaki itu, mulai menyiangi hutan Kemuning. Pohon-pohon besar dan kecil digasak dengan mesin penebang yang meraung-raung. Manakala dirasa tanah sudah terbuka, mereka meneruskan dengan mengayunkan pacul dan beliung. Namun pelan tetapi pasti, dan sama sekali tidak mereka sadari, terciptalah nganga luka yang membawa malapetaka dari ketamakan yang telanjur berurat-akar di setiap kepala.
Dari keroak liang tanah yang terluka itu, tak disangka-sangka, keluarlah ribuan ular beragam jenis. Desisnya membuat Bakar dan orang-orang ketakutan. Ular-ular itu bergerak dengan beringas, melata, mematuk, membelit, dan menggigitkan bisa ke tubuh siapa saja yang berada dalam jangkauannya. Jerit kematian bergema. Tubuh-tubuh tumbang berkejat-kejat, mulut-mulut membusa, mata-mata membeliak saat melepas nyawa.
Syahdan, tidak ada satu pun dari rangkaian peristiwa itu yang luput dari pandangan Samin. Saat ular-ular keluar dari dalam lubang, dia sedang berada di puncak pohon sialang untuk menurunkan madu dari sarang terakhir yang dia temukan. Dari puncak pohon itu dia juga melihat seekor ular sebesar pohon kelapa menelan tubuh Bakar tanpa tersisa. Ular itu bergelung di gundukan tanah bekas galian dengan mata hijau menyala terang. (*)
Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).