Hikayat Ular dalam Mimpi Pemuda Samin

“Hikayat itu hanya muslihat kaum pencoleng zaman dahulu untuk membiarkan hutan Kemuning tetap merimbun agar berguna sebagai tempat persembunyian dari kejaran opas-opas Belanda,” ucap Bakar penuh percaya diri.

“Tapi sekarang, seperti yang kalian ketahui, di dalam hutan itu, di bawah tanahnya, ada kekayaan yang bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran kita semua. Apa salahnya?”

“Tetapi, bagaimana dengan pesan yang dibawa Samin?” tanya Rojali menyela ceramah Bakar. Beberapa orang mengangguk, bersetuju dengan ketakutan yang meriap di mata Rojali. Bagaimanapun, legenda tua itu sudah ada sejak mereka belum lahir ke dunia. Mereka jelas tak mau mendapat celaka apabila menafikannya begitu saja.

Hening merambati beranda rumah Bakar. Orang orang menunggunya mengeluarkan semacam fatwa yang bisa mengusir khawatir di dada mereka. Apa pun yang keluar dari mulut Bakar akan mereka percaya. Di kampung Kelingi yang terkucil dan diapit Bukit Barisan itu, hanya Bakar yang mengenyam pendidikan tinggi. Dia seorang sarjana muda satu-satunya.

“Saudara-saudara tak perlu termakan siasat murahan,” ujar Bakar tersenyum simpul. “Kalian kan tahu, hutan Kemuning itu adalah sumber hidupnya. Rencana kita, terang saja ditakutinya, dia tak ingin periuk nasinya diusik. Itu kenapa dia membawa-bawa nama Puyang Teduang Berampo untuk menipu kita. Tapi coba kalian pikir, apa cuma dia yang punya hak mengambil manfaat dari hutan itu? Tidak. Kita dan dia sama. Sama-sama berhak menikmatinya.”

Pandai benar Bakar bermain kata-kata. Apa yang disampaikannya membuat orang-orang mengangguk-angguk setuju. Tersirat senyum lega di wajah mereka saat mendengar Bakar mengatakan bahwa rencana besar itu akan dilaksanakan tiga hari di muka.

Sudah lama orang-orang di kampung Kelingi memendam iri pada kampung-kampung tetangga yang warganya hidup sejahtera sejak berganti profesi dari petani menjadi penambang batu bara. Motor-motor mengkilap hilir-mudik melintasi jalan saban harinya. Begitupula truk-truk pengangkut batu bara, yang deru roda dan mesinnya, meninggalkan debu-debu dan rasa cemburu di hati mereka. Lantas, ketika Bakar menawarkan gagasannya untuk membuka hutan Kemuning yang kaya batu bara, maka tak ada yang menolaknya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia