Mereka sudah terbiasa dengan gigitan nyamuk. Tentunya juga terbiasa dengan keadaan gelap dan sunyi di tengah kebun yang jelas-jelas sejauh mata memandang hanya kegelapan yang tampak. Semua itu dilakukan demi pundi-pundi rupiah untuk bertahan hidup. Hanya dengan cara itulah getah karet akan deras keluar sebab batang-batang karet masihlah segar di pagi hari.
Karmin melanjutkan langkahnya. Dirogohnya sebungkus lisong dan ditariknya sebatang yang kemudian dia jepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Masih dalam keadaan berjalan, ditekannya pemantik yang kemudian api menyala redup, membakar lisongnya yang sudah berada dalam jepitan antara bibir atas dengan bibir bawahnya. Kepulan asap segera diterbangkan angin. Menyuruh nyamuk-nyamuk pergi dari sekitar tubuhnya. Dan dia begitu menikmati setiap langkah kakinya menuju parak jagung manis yang sebentar lagi tiba masa panen.
Penduduk dusun Mekar Sari selalu memanfaatkan parak mereka dengan baik. Tak pernah sekalipun parak mereka tidak menghasilkan sesuatu. Dulunya parak-parak jagung, ubi dan kacang tanah itu ditanami padi. Akan tetapi saluran irigasi yang mengaliri parak-parak tak lagi berfungsi dengan baik. Mengingat sepanjang tahun debit air dari bendungan Sungai Dareh tak lagi memungkinkan mengaliri sawah-sawah yang sekarang menjadi parak jagung dan ubi dan kacang tanah. Meski begitu, mereka tetaplah menjadi petani. Yang terus berjuang menyediakan bahan-bahan pokok makanan bagi kehidupan manusia.
Sesekali telapak kaki Karmin yang tak beralas menginjak rerumputan liar yang basah oleh embun. Kabut tipis masih enggan beranjak. Udara begitu segar untuk dihirup. Karmin tak menyia-nyiakan semua karunia yang alam berikan sepanjang pagi. Meskipun dia juga sadar telah mencemari udara segar tersebut dengan kepulan asap rokoknya yang sekali-dua diembuskan dari mulutnya yang terbuka lebar.
Sesampainya di parak. Karmin langsung memeriksa keadaan jagung-jagung yang ditanamnya. Tampak sehat dan segar dan subur. Meski matahari belumlah menampakkan diri dari balik bebukitan. Biasnya memberi sedikit penerangan. Membulat mata Kar min saking bahagia mendapati buah-buah jagung yang besar-besar. Dia su dah tak sabar ingin segera memanen buah-buah jagung tersebut. Menuai hasil dari sebuah kerja keras dan kesabaran dan juga penantiannya selama ini. Karmin terus menelusuri paraknya yang masih menyisakan pematang-pematang yang menjadi pembatas antara satu petak dengan petak lainnya. Hingga sampailah dia di dekat dangau, terbelalak matanya.
“Mayat! Ada mayat!” pekiknya menyerupai lolongan serigala saat melihat bulan purnama.