Lima belas menit sejak kerumunan menyesaki parak jagung Karmin. Marni datang dengan napas tersengal-sengal. Menyisa satu-dua yang dapat dia embuskan dari lubang hidung.
“Pak! Bapak!” teriak Marni panik tersebab melihat parak jagungnya sudah penuh sesak oleh penduduk dusun Mekar Sari. Beberapa pohon jagung tampak tumbang karena pematang yang sempit tak lagi mampu menampung kerumunan. Kepala dusun susah payah menyuruh anggotanya tertib dan tidak membuat kerusakan. Namun tampaknya semua himbauannya itu sia-sia belaka. Mengingat semakin lama semakin banyak penduduk berdatangan hendak menyaksikan proses evakuasi mayat yang ditemukan di parak Karmin.
Kegaduhan pecah saat Marni menerobos garis polisi yang membentang. Petugas berusaha menahan. Marni terus saja teriak histeris memanggil suaminya dengan panggilan bapak. Dan sewaktu seorang anggota polisi datang menjelaskan kepada Marni bahwa suaminya baik-baik saja dan sedang di kantor polisi untuk diinterogasi sebagai saksi, Marni tampak lega dan pingsan dalam waktu bersamaan.
Ketika Marni terbangun. Sosok yang pertama kali dilihatnya adalah Karmin, suaminya. Dipeluk erat tubuh suaminya itu erat sekali. Seolah dia tak mau melepaskan pelukan tersebut dalam waktu yang entah sampai kapan. Dan berdasarkan hasil penyidikan. Polisi menyatakan bahwa mayat yang ditemukan Karmin adalah seorang tukang ojek pengkolan di Simpang Duren. Tak jauh dari dusun Mekar Sari. Sampai Karmin kembali ke rumahnya, belum diketahui penyebab pasti atas motif pembunuhan tersebut. Yang jelas, Karmin kecewa saat mendapati jagung-jagung di paraknya bertumbangan. Seketika dia merasa dendam kepada pelaku pembunuhan. Yang dirugikan tidaklah semata-mata korbannya seorang. Karmin juga merasa dirugikan atas penemuan mayat tukang ojek yang dibunuh di paraknya. *
Mekar Sari, Dharmasraya