Parak-parak tetangga masihlah sepi. Jarak dari parak ke kebun-kebun karet milik penduduk dusun Mekar Sari juga terbilang jauh. Namun, keheningan pagi yang menyapa dan dibantu dengan embusan angin yang bertiup lembut menerbangkan pantulan suaranya dalam radius beberapa meter dari tempatnya berdiri dalam keterkejutan. Seketika tubuhnya mematung, lisong yang tadi dijepit oleh bibir atas dan bibir bawahnya mendadak jatuh karena mulutnya menganga ketika mendapati sesosok mayat yang tergeletak di dekat dangau miliknya. Kaki-kakinya membeku. Gemetar tangannya menahan gigil dan takut. Tubuh mayat itu menelungkup. Dalam keadaan utuh dengan cairan kental berwarna merah merembes dari area perutnya. Hampir-hampir menguap dan menerobos masuk ke dalam tanah. Dia tebak mayat tersebut belumlah lama terbunuh atau dibunuh atau bunuh diri. Karmin hanya bisa menerka-nerka sedangkan dia sendiri tak juga lekas beranjak. Dan yang bisa Karmin lakukan hanya berteriak sekuat yang dia bisa.
Tak berselang lama, teriakan Karmin mengundang kedatangan para penyadap karet yang mendengar suara gaduh itu. Berbondong-bondong mereka berdatangan ke parak Karmin. Masih dengan lampu senter yang melingkat di kepala dan obat nyamuk yang diikat di sebelah kanan pinggang dengan tangan menggenggam erat pisau potong yang biasanya digunakan untuk menyadap karet. Mereka datang dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya. Wajah-wajah penasaran tercetak jelas di sana. Dan terjawablah segala macam pertanyaan yang membenak saat mendapati Karmin yang berdiri tegak di depan sesosok mayat yang menelungkup.
Berita penemuan mayat di parak jagung Karmin dengan cepat menyebar luas. Sampai juga berita itu di telinga Marni. Tergopoh-gopoh Marni menuju parak tanpa menenteng rantang yang berisi sarapan untuk suaminya seperti pagi-pagi biasanya. Bahkan Marni sampai tidak ingat kalaulah si bungsu belum dia bangunkan karena saking paniknya mendengar berita penemuan mayat di parak jagungnya. Dia cemas. Beranggapan bahwa mayat itu adalah mayat suaminya. Tersebab tetangga yang mengabari hanya mengatakan ada mayat di paraknya. Dan itu jelas membuatnya sangat khawatir terlebih suaminya sudah berangkat sejak pagi buta sekali.
Garis-garis polisi segera dibentangkan. Membuat penduduk yang berdatangan hanya bisa menyaksikan dengan berkerumun dari kejauhan. Puluhan polisi berjaga. Beberapa orang berpakaian putih yang merupakan tim medis dibantu oleh pihak kepolisian tampak sedang melakukan tugasnya. Sirene ambulans mengiung-ngiung membuat suara gaduh. Ditambah semakin gaduhnya suara-suara dengungan dari bisik-bisik penduduk dusun Mekar Sari yang mempertanyakan perihal penemuan mayat di parak jagung manis milik Karmin.