Perempuan Kemarau Pembawa Rantang

Membuat batu-bata sudah kau jalani sejak tiga tahun yang lalu—kau hanya lulusan sekolah menengah atas. Karena kau tak juga mendapatkan pekerjaan yang layak, setelah mencari ke sana-sini, kau memutuskan untuk membuat batu-bata— kau kadang menyesali masa lalu, kenapa tak mau prihatin untuk mengusir kegelapan di masa depan. Usiamu tahun depan sudah menginjak tiga puluh, dan kau juga belum menikah. Mungkin temanteman lamamu, sudah banyak yang mempunyai anak.

Orang tuamu sudah meninggal dunia, sejak kau menginjak kelas tiga sekolah menengah atas, korban kecelakaan bus antarkota antarprovinsi. Selama kau hidup, baru satu kali kau dekat dengan seorang gadis. Itu terjadi sebulan setelah kau selesai sekolah. Itu pun tidak bertahan lama. Hanya dua bulan lamanya. Setelah gadis yang dekat padamu tahu perihal kehidupanmu, ia memutuskan untuk meninggalkanmu. Sejak itu kau selalu minder jika naksir dengan seseorang.

Kembali pada perempuan itu, keesokan harinya setelah hari itu, ia kembali. Membawa rantang yang berbeda. Ia menyodorkan rantang yang dibawanya kepadamu, dan bilang isi rantang itu untukmu. Kau berbasa-basi, bilang, “wah, malah repot-repot” .

Lalu ia selalu mendatangi pelataranmu di pagi hari, membawakan rantang yang berisi makanan. Jika sore tiba, ia juga mengantarkan rantang padamu. Semenjak kehadiran perempuan itu, kau tak perlu membuat makanan untuk pagi dan sore bahkan siang, karena setiap harinya perempuan itu selalu datang dua kali dengan rantang di tangannya. Setiap harinya, kau menerima dua rantang.

Pada suatu hari kau menyadari akan sesuatu hal. Setiap perempuan itu datang, hawa selalu bertambah panas, dan matahari seperti semakin bersinar terang. Apakah ini akibat dari hadirnya perempuan itu; ia terbuat dari kemarau? Tetapi sayangnya kau memilih tak mencari jawaban atas pertanyaan itu. Kau malah merasa beruntung, hawa yang semakin panas, membuat tanah liat basah berbentuk balok yang berbaris rapi di pelataran semakin cepat kering.

Rutinitas perempuan itu dilakukan hingga sekarang. Kau belum mengetahui pasti, apa motivasi perempuan itu, tiba di pelataran setiap pagi dan sore hanya untuk membawakanmu rantang yang berisi makanan. Tetapi kau tak peduli. Kau kini beranggapan, bahwa begitulah cara Tuhan memberimu rezeki.

Terkadang karena kau merasa berutang budi padanya, kau mengajak duduk terlebih dahulu di samping rumahmu, sebelah barat rumahmu, atau kalau kau berdiri di pintu depan rumah, sebelah barat adalah tangan kananmu. Di sana tak seperti sebelah rumahmu bagian timur, yang sumpek dengan pohon-pohon, dan tobong—tempat membakar batu-bata. Di barat rumahmu, kau mengajaknya duduk, menikmati senja, selepas kau menumpuk batu-bata mentah yang sudah kering menyerupai pagar. Di barat rumahmu tak ada halangan apa-apa, hanya ada sawah yang membentang. Ya, rumahmu dekat dengan sawah, hanya saja sawah itu bukan sawahmu.

Arsip Cerpen di Indonesia