Perempuan Kemarau Pembawa Rantang

Wajahnya tampak cerah, senyumnya sangat indah, ia mengenakan daster merah tua, dan membawa rantang yang segera diberikan padamu. Hanya saja, setelah berbincang sejenak, dan kau menikmati makanannya, ada yang berubah dari dirinya begitu kau amati. Tubuhnya bagian perut tampak berisi, kau menebak, ia sedang hamil.

Tapi setahumu perempuan itu belum bersuami, dan selalu datang setelah pertemuan pertama di tempatmu bekerja, mana mungkin ia menikah? Sedangkan ia tak pernah satu kali pun absen mengantarkan rantang—pada saat kapan ia meluangkan hari untuk menikah?

Kesepian menghampar di antara dirinya dan dirimu— jantungmu serasa diremas. Agaknya ia tahu kau akan menanyakan sesuatu padanya. Ia mengelus perutnya dan tersenyum.

“Aku hamil lima bulan.”

“Katamu kau belum mempunyai suami.”

“Memang aku belum mempunyai suami. Aku ini diperdaya oleh lain musim,” katanya. Kau tak paham dengan apa yang dimaksudnya. “Nampaknya pertemuan kita kali ini menjadi pertemuan yang terakhir. Kuharap kau tidak usah mengharapkanku lagi setelah ini. Musim kemarau berikutnya aku tak akan kembali.”

Rindu yang ada dalam dirimu selama ini patah. Kau ingin mengutuk perempuan yang di hadapanmu. Namun mendadak rasa sedih menguasaimu. Timbul rasa kasihan dalam dirimu, seseorang telah membuatnya hamil. Perempuan itu melangkah pergi, tanpa pamit. Aneh, kau seperti dibius untuk tetap diam. Saat ia pergi kau baru bertanyatanya, “siapa yang telah membuatnya mengandung?”

Kau terus mencari maksud akan perkataan perempuan itu; diperdaya oleh lain musim. Apa yang diucapkan perempuan itu benar, pertemuan itu benar-benar menjadi pertemuanmu dengannya yang terakhir. Sampai-sampai kau merasa, seakan-akan yang terjadi selama ini hanya ilusi terang. Ke mana perempuan itu hingga ia tak kembali? Kau merasa kehilangan.

Hingga kemudian kau sedikit mengerti, kata-kata perempuan itu, diperdaya oleh lain musim. Di negeri ini, selain musim kemarau, tak ada musim lain, selain hujan. Dan memang, perempuan itu mengandung anak yang dibuahi oleh lelaki bejat yang diciptakan musim hujan.

 

Bantul, 2019

Risen Dhawuh Abdullah, Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul “Aku Memakan Pohon Mangga” (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia