Jam dinding sudah berjalan sekali putaran. Itu menandakan dia berada di dalam kamar selama satu jam tanpa mengutarakan kata-kata padaku. Aku berdiri menunggu di depan pintu kamar. Sesekali aku memanggil namanya, juga mengetuk pintu agar dia menyahut panggilanku. Tidak ada jawaban dari dalam. Sesekali yang terdengar suara hempasan pintu lemari dan isak tangis.
Semakin kacau balau. Aku menggerutu saat mendengar suara tangisan. Aku kembali menanyakan keadaan dia namun lagi-lagi yang terdengar suara isak tangisannya. Aku pun heran apa yang sedang dia lakukan di dalam kamar. Apakah mungkin dia benar-benar akan meninggalkanku.
Saat aku lagi menggerutu tidak karuan, dia keluar dari kamar. Di tangannya dia sudah menggenggam sebidang koper besar dan sebuah tas kecil tersandang di tubuhnya. Mata lebam sehabis dipukul duka, air mata terus tumpah di pipinya. Dia menatapku mengisyaratkan ingin pergi. Sekonyong-konyong langkah kakinya gesit melangkah ke pintu depan. Bergegas aku menahan laju kepergiannya. Sebelum sampai ke pintu depan aku sudah terlebih dahulu menghalang dan memberhentikan langkah kakinya.
“Jangan halangi aku untuk pergi.” Dia menarik-narik tubuhku agar menyingkir dari pintu.
“Kau pergi kemana, Afifah.” Kedua tanganku memegang bahunya mencoba menenangkan.
“Aku mau ke rumah orang tuaku. Aku tidak betah lagi berda di rumah ini.” Tangannya merambas ke segala arah yang membuat tanganku jatuh dari genggaman bahunya.
“Apa kau lupa? Aku ini suamimu. Jangan seenaknya saja kau pergi dari rumah ini.”
“Fadli! Kumohon biarkan aku pergi. Aku ingin mengingat kembali semua hal-hal yang terjadi dalam diriku.”
“Untuk itu kau harus tetap di rumah, Afifah.”
“Gara-gara kecelakaan itu aku lupa dengan semua kehidupanku. Bahkan, aku lupa apakah kau ini benar-benar suamiku atau tidak.”
“Bersabarlah, Afifah. Ingatanmu akan pulih. Aku akan berusaha mengembalikan semua ingatanmu.”
“Sudahlah, Fadli. Beri aku waktu untuk mengingat semua ini. Kau tahu yang kuingat setelah operasi itu hanyalah orang tuaku bukan dirimu.”
“Baiklah, kalo itu yang kau mau. Afifah, pulanglah ke rumah kita jika semua ingatanmu kembali normal.”
“Iya, Fadli. Doakan saja yang terbaik untuk kesembuhanku. Kumohon berikan aku waktu.” Dia melepaskan cengkeraman tanganku dari bahunya.