Secangkir Kopi Pagi

Bergegas aku berangkat ke rumah sakit. Kekhawatiran menuntunku dalam kegetiran setibanya sampai di rumah sakit. Dua tiga kalimat begitu cepat terlontar di mulutku ketika berada di ruang tunggu rumah sakit. Perawat yang ada di ruang tunggu itu mem­beritahukan kalau Afifah berada di ruangan UGD. Tidak ada lagi sepatah kata yang kuberikan ke perawat itu selain kakiku berlari menyurusi lorong rumah sakit sampai tiba di UGD.

Di ruangan UGD aku melihat seo­rang dokter keluar. Mungkin saja dokter itu baru saja selesai melakukan operasi. Aku menghampirinya dan bertanya ke dia apakah Afifah sedang dirawatnya. Benar saja dugaanku kalau istri baru saja siap dioperasi. Dokter itu bilang Afifah mengalami benturan hebat di kepalanya hingga menye­babkan dia mengalami amnesia berat. Aku tak mampu lagi berkata apa-apa selain menyesali perbuatan yang sudah terjadi. Afifah, istri yang sangat aku cintai mengalami amnesia berat dan membuatku harus bekerja keras memulihkan ingatannya kembali.

Esok pagi seceruput kopi telah hinggap di tenggorokanku. Di teras rumah kunikmati setiap detik waktu yang berdentang. Lamban-laun butir demi butir tenang yang kurajut haampir saja menyelimutiku sampai seorang perempuan datang. Dia berdiri di bibir teras rumah sambil memanggil namaku. Aku terperanjat dan menatap ke depan. Kaget, melihat Afifah pulang ke rumah.

“Afifah?” aku berdiri dan berjalan ke arahnya.

Dia memelukku ketika aku meng­hampirinya. Dia menangis tersedu-sedan. Isak tangisnya menyibak kesepi­an di rumah.

“Sekarang aku sudah ingat semua­nya. Semua tentang kenangan dan kebersamaan kita, Fadli. Aku tahu sekarang foto yang kamu cari itu, Fadli. Ini foto pernikahan kita. Selama ini aku menyimpannya dan tidak mem­berita­hukan kepadamu.”

Kedua tangan kami menggenggam foto pernikahan kami. Kami saling menatap foto itu ssembari tersenyum teduh. Sungguh aku merasakan pagi ini senikmat kopi yang kuminum tadi. Istriku telah pulang dalam pelukanku di rumah kenangan ini.

Arsip Cerpen di Indonesia