Dia pergi menembus udara kosong. Kini sia-sia sudah perjuanganku selama ini. Terlepas dari kecelakaan yang menimpa beberapa waktu yang lalu dia mengalami Amnesia. Di mana dia lupa akan segala hidup yang pernah jalani. Maka dari itu aku mencoba mengembalikan ingatannya dari beberapa foto yang terletak di atas meja. Terutama foto pernikahan kami yang baru saja aku temukan terletak di tumpukan foto lain saat hendak aku duduk di atas kursi.
Kemana pun dia pergi aku melarangnya untuk mengendarai mobil seorang diri. Bukan karena aku menjadi suami yang keras, melainkan untuk menjaga keselamatan dia. Sebab, belum sepenuhnya dia bisa menyetir mobil. Apalagi pada zaman sekarang ini jumlah mobil yang membludak dan jalan raya yang semakin sempit membuatku berpikir dua kali untuk mengizinkannya mengendarai mobil. Tapi apa boleh buat. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari.
Beberapa bulan yang lalu. Sehabis kerja Afifah pulang mengendarai mobil. Aku sudah melarangnya untuk tidak membawa mobil. Namun dia bersikeras dengan alasan lebih ingin menjadi seorang istri yang mandiri. Aku masih ragu apakah dia bisa benar-benar mengendarai mobil di jalan raya.
Aku tidak bisa tenang dan selalu kepikiran. Setiap satu jam sekali aku menanyakan dia sudah di mana melalui sambungan telepon. Menanyakan keadaan apakah dia mengalami kendala. Sesampai tiga kali kutelpon dia marah-marah samaku. Menganggap kalau aku menyepelekan dia. Dia hanya bilang kalau dia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan dia.
Mungkin ucapan dari Afifah memang benar, dasarnya aku saja terlalu menyepelekan atau terlalu khawatir setiap apa yang dia kerjakan. Dari pada aku terus mengganggu dia yang sedang menyetir mobil, lebih baik aku merebahkan sejenak tubuhku di atas ranjang rotan di ruang tengah.
Perlahan rasa lelah di tubuhku terlepas satu per satu hingga beberapa helai daun waktu rebah ke angkasa. Di saat mataku hampir terpejam suara denting handphoneku berbunyi beberapa kali. Aku terperanjat dari tempat tidur dan sigap meraih handphone yang ada di kantong celana sebelah kiri. Seketika suara seorang perempuan di balik handphoneku memanggil namaku. Aku kira itu nomor istriku sebab nomor yang terpampang di layar handphoneku itu nomor istriku. Tetapi, aku salah menduganya.
Ternyata yang menelponku adalah seorang perawat rumah sakit. Kaget bukan main kala aku mengetahui Afifah sedang dirawat di rumah sakit. Dia baru saja mengalami kecelakaan dengan truk molen di persimpangan jalan Aksara Medan. Kata perawat itu luka yang dialami Afifah sangat parah hingga harus dilakukan operasi sekarang juga. Aku terdiam, dentuman duka di dada bertubi-tubi menghujam. Tak tahu lagi apa yang harus aku katakana selain memaki diriku sendiri. Aku terlalu ceroboh membiarkan istriku menghadapi bahaya di luar sana seorang diri sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan.