Menggugat Dewi Sri

Namun, ternyata tidak. Segala kegembiraan dan harapan Ali runtuh sewaktu berhadapan dengan pengacara lima puluhan tahun dengan kumis melintang itu. “Susah, Pak. Bukan, bukan susah, tapi tidak mungkin. Tidak mungkin kita bisa menuntut sesuatu yang hanya ada dalam dongeng seperti Dewi Sri,” kata pengacara itu dengan suaranya yang besar dan bergema seusai Ali mengutarakan maksud kedatangannya.

“Tapi, beliau benar-benar ada, Pak,” Ali mencoba bersikeras.

Setengah jam kemudian, pengacara itu meraih telepon dan tidak sampai dua menit, satpam muda yang ramah tadi telah berada dalam ruangan untuk membawa Ali pergi. Si pengacara sempat berbisik ke satpam itu, “Kau harusnya bawa dia ke rumah sakit jiwa.”

Ali pulang dengan jiwa remuk redam. Dengan motor butut yang kenalpotnya menyemburkan gumpalan asap hitam dan letusan-letusan periodik, Ali melintasi area persawahan padi yang gagal panen. Ia menyaksikan para tetangga yang lesu dan kurus. Anak-anak yang kurang gesit. Udara seperti dipenuhi hal-hal murung. Kegembiraan seolah telah diusir dari kampungnya.

Semua bermula dari empat puluh hektare lahan di kampung itu, yang dikelola lebih dari seratus kepala keluarga, dan gagal panen dalam tiga kali musim tanam padi terakhir. Tak satu pun petani yang lepas dari musibah itu. Bahkan, Bah Yit, petani yang dianggap paling jago. Padi-padi berhenti tumbuh pada usia satu setengah bulan, lantas menguning dan mati.

Segala daya upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Penyuluh pertanian dari kecamatan datang, lantas mengambil contoh padi yang mati, dan beberapa hari kemudian kembali lagi dengan ceramah panjang dan membingungkan. Ketika selesai, ia membagikan obat semprot.

Tidak manjur. Orang-orang mencoba menanam padi kembali. Saat gejala awal padi berhenti tumbuh terdeteksi, mereka menyemprotkan obat itu. Padi tetap enggan tumbuh. Orang-orang dari dinas penyuluhan pertanian datang dan mengambil contoh lagi. Tapi, kali itu mereka tak kembali.

Warga kampung akhirnya berusaha sendiri. Mereka mengingat-ingat ajaran leluhur mereka dalam menanam padi, juga ritual yang mesti mereka lakukan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, tumpeng-tumpeng besar berisi aneka macam polo, panggang ayam jawa utuh, aneka sayur mayur, dan tentu saja tujuh jenis bunga serta air dari tujuh mata air berbeda. Ritual seperti itu selalu mereka lakukan menjelang musim tanam dan sesudah musim panen. Mereka tak pernah meninggalkannya. Jadi, mereka pikir telah cukup membahagiakan Dewi Sri seperti dulu dilakukan para leluhur. Dan kenyataan itu semakin membikin warga bingung.

Arsip Cerpen di Indonesia