Jadi begitulah. Ketika pada percobaan ketiga dan lagi-lagi padi tetap gagal tumbuh setelah satu setengah bulan, Ali terbangun pada suatu pagi dengan sebuah pencerahan. Ia yakin, seyakin-yakinnya, bahwa Dewi Sri sebagai Dewi Padi telah teledor dengan memberi petaka pada mereka. Petaka itu seharusnya jatuh ke kampung lain yang abai memberikan sesaji. Dewi Sri mesti diingatkan, pikirnya. Tidak sekadar diingatkan, Dewi Sri kudu mengganti kerugian para penduduk yang tidak berdosa.
Meski gagal meyakinkan pengacara untuk membantunya, kemampuan bersilat lidah Ali cukup efektif untuk memengaruhi penduduk. Tidak susah juga, karena mereka yang sudah lesu nyaris serupa mayat hidup, mengiyakan saja semua perkataan Ali, juga ajakan untuk pergi ke kantor kejaksaan.
Keesokannya, Kantor kejaksaan Mojokerto hiruk pikuk pukul sembilan pagi. Ali dan massa yang menyertainya—lebih dari seratus orang—memaksa agar kejaksaan membantu mereka menyeret Dewi Sri ke pengadilan.
Pihak kejaksaan, mempertimbangkan jumlah massa yang sedemikian banyak, terpaksa menjadikan mereka prioritas dan bersedia berdialog. Walau tak mampu membuang pikiran serupa yang ada di kepala sang pengacara sehari sebelumnya, mereka cukup bijak untuk tidak langsung menolak.
Kantor kejaksaan akhirnya menulis sebuah surat yang menerangkan bahwa satu-satunya kesalahan memang terletak pada Dewi Sri. Tidak perlu pengadilan untuk menyatakan Dewi Sri bersalah dan mesti menanggung semua kerugian warga. Pihak kejaksaan menyerahkan surat itu kepada Ali.
“Berikan surat ini kepada Dewi Sri,” kata mereka.
“Tapi, di mana saya bisa menemukan beliau?” Ali terperangah. Ini benar-benar respons yang tidak ia sangka-sangka. Dalam bayangan Ali, pihak kejaksaan yang akan mencari Dewi Sri dan menghadirkannya ke pengadilan.
“Anda yang lebih tahu.”
Ali mencoba mengulur agar pihak kejaksaanlah yang berkewajiban mendatangkan Dewi Sri. “Tapi, ini kan bukan keputusan dari hakim. Surat ini tidak memiliki kekuatan hukum.”
“Dalam hal ini, kami lebih paham ketimbang Anda. Untuk menghemat waktu, silakan Anda meninggalkan tempat ini.”
Ali dan warga kampungnya pulang dengan kondisi yang lebih hancur ketimbang semula. Harapan kembali memudar, wajah-wajah lesu kembali terpancar. Ali lalu meletakkan surat dari kejaksaan di pematang sawah. Embun dan angin kemudian melenyapkan surat itu entah ke mana.