Tak lama kemudian, istirahat dimulai. Sisil dan sahabatnya, Kiren, berencana makan bakso bersama di kantin. Ini merupakan kali pertama Sisil makan bakso di sekolah. Karena, sehari-hari, Sisil diberikan uang jajan sebesar Rp 3.000. Sedangkan, harga bakso ai sekolah Sisil Rp 5.000. Tetapi, karena Sisil sering membantu ibunya, Sisil diberi uang tambahan. Jadi, dia bisa makan bakso bersama Kiren.
Tiba-tiba, Sisil mendengar suara anak menangis. Ternyata, itu Felicia. Sisil dan Kiren pun menghampiri Felicia.
“Ada apa?” tanya Kiren.
“Aku lupa membawa bekal. Sekarang, aku kelaparan,” jawab Felicia sambil menangis.
Sisil merasa iba dengan Felicia. Dia merogoh sakunya, dan mengeluarkan uang Rp 5.000.
“Ini untukmu Felicia. Belilah jajanan untuk dimakan, ya!” kata Sisil tersenyum.
Felicia dan Kiren mengernyitkan dahi.
“Untukku?” tanya Felicia.
Sisil mengangguk.
Dengan senang, Felicia menerima uang itu. “Terima kasih,” katanya. Felicia langsung pergi ke kantin.
“Kamu baik sekali, ya? Memangnya, enggak sayang uangnya?” tanya Kiren membuyarkan lamunan Sisil.
“Asalkan ikhlas,” jawab Sisil.
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya Sisil pulang. Ketika pulang, Sisil melihat seorang anak dikejar seekor anjing. Dia segera melindungi anak itu.
“Hush! Hush! Pergi Sana! Syuh!” usir Sisil ke anjing itu.
Anjing itu segera berlari menjauh karena ketakutan.
“Terima kasih,” kata anak yang dilindungi Sisil.
“Dari tadi, aku berteriak minta tolong, tak ada yang peduli denganku,” kata anak itu lagi.
“Tak apa. Itu anjing tetanggaku,” ujar Sisil tersenyum.
Ketika Sisil melihat wajah anak perempuan itu, dia merasa wajahnya seperti tak asing bagi Sisil. Namun, sayang anak itu langsung pergi.